Menyiasati Rendahnya Adopsi Iptek
Selasa,11 Agustus 2009 06:41
Fathoni Moehtadi
Asdep Urusan Pemberdayaan SDM Iptek,
Kementerian Negara Riset dan Teknologi
Visi untuk menjadikan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) sebagai penggerak utama dalam pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan hingga kini tampaknya masih lebih banyak sebagai wacana ketimbang sebagai kesadaran yang perlu direalisasikan. Kondisi tersebut terjadi karena daya kapabilitas dan kompetensi masyarakat dalam memahami, mengadopsi, memproduksi dan mentransformasikan iptek secara umum masih belum seperti yang kita harapkan. Ini tercermin pada capaian Index Daya Saing Global dimana pada bidang pendidikan dan pelatihan, Indonesia, menurut World Economic Forum (2005-2008), menduduki peringkat ke-71 dari 134 negara.
Rendahnya adopsi teknologi bukan hanya merebak di kalangan masyarakat. Di kalangan pemerintahan sendiri terdapat gejala yang sulit dijelaskan dengan bahasa awam. Secara substansial, tidak ada pemerintah, baik pusat maupun daerah yang menolak kehadiran iptek. Namun, tengoklah berapa besar komitmen pemerintah dalam pengembangan iptek. Selain kelembagaan iptek yang tidak banyak dikehendaki kehadirannya di beberapa daerah, sumberdaya manusia yang melek iptek dan pengalokasian anggaran adalah indikator paling mudah diamati, sejauh mana suatu pemda menaruh perhatian pada iptek.
Di atas semuanya, terdapat budaya yang belum kondusif bagi pengembangan iptek, bukan hanya di kalangan masyarakat awam, melainkan juga di komunitas ilmiah. Lihat saja, berapa banyak perguruan tinggi yang secara formal seharusnya merupakan produsen iptek (research university), namun masih lebih banyak berfungsi sebagai penyalur iptek (teaching university). Ciri utama dari perguruan tinggi seperti ini adalah belum membudayanya kegiatan litbang sebagai salah satu langkah awal dalam upaya penemuan dan pengembangan iptek, seperti dicanangkan dalam tridharmanya. Perguruan tinggi yang tidak membangun budaya pengembangan iptek sebenarnya belum sempurna menjalankan tugasnya. Oleh karena dikawatirkan tumbuh budaya lain yang tidak sejalan dengan fungsi-fungsi yang diembannya.
Argumentasi yang melatarbelakangi kondisi tersebut bisa sangat beragam, baik dari perspektif ekonomi, sosial-politik, budaya maupun lingkungan. Dari perspektif ekonomi, besarnya cadangan kekayaan sumber daya alam seringkali dijadikan sebagai argumentasi dalam menunda program pengembangan iptek. Tidak sedikit juga kelompok ekonom yang memandang iptek lebih banyak sebagai cost center ketimbang profit center (mesksipun dalam jangka pendek hal ini memang benar), yang menimbulkan pemborosan dan penghamburan dana di masa sulit ini.
Demikian pula dari perspektif sosial-politik yang masih memandang kehadiran iptek sebagai hal yang dapat memperuncing ketimpangan sosial, menciptakan pengangguran, menambah kemiskinan maupun dominasi kekuasaan oleh sekelompok elit. Itu sebabnya penguasaan iptek oleh sekelompok masyarakat masih ada yang memandang sebagai alat pembelah masyarakat. Bahkan masih segar dalam ingatan kita, penggunaan metode-metode ilmiah dalam penghitungan suara yang sudah lazim dipergunakan di negara maju, masih juga menjadi momok yang menakutkan, sampai Mahkamah Konstitusi mengizinkan penggunaan metode tersebut sebagai bagian menyeluruh dari romantika kehidupan berdemokrasi.
Sedangkan dari perspektif budaya, pengembangan dan penguasaan iptek seringkali harus menghadapi kekawatiran akan tergerusnya sistem nilai dari tradisi dan budaya nenek moyang. Teknologi informasi dan komunikasi yang telah berkembang sedemikian cepat, bisa menjadi dilema. Apakah kita biarkan kita diterkam oleh teknologi itu, atau justru teknologi itu kita kuasai dan kendalikan untuk tujuan-tujuan mulia mengentaskan masyarakat dari gagap teknologi? Fakta membuktikan, ketidak seimbangan informasi kadang berujung pada ketidakmerataan keuntungan ekonomi dan finansial.
Sementara dari perspektif lingkungan, terdapat stigma yang cenderung melihat teknologi sebagai faktor dominan yang memiliki potensi untuk merusak lingkungan. Pandangan ini tidak jarang muncul dari mereka yang mengartikan iptek dalam arti terbatas. Meskipun pandangan ini semakin lama semakin berkurang, namun perlu diantisipasi potensi resistensinya. Kini justru harus disadari bahwa pemanfaatan iptek yang bijaksana yang akan mencegah terjerumuskannya masyarakat dan bangsa ini dari kemerosotan dan kemunduran kualitas lingkungan.
Hasil pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa tidak semua pihak mempunyai sikap yang negatif terhadap pengembangan iptek. Terdapat beberapa pemda yang secara konsisten dan berkesinambungan mempunyai komitmen kuat untuk mengembangkan daerah dan warganya dengan berbasis iptek. Untuk mendorong dan memberikan motivasi bagi daerah-daerah yang sudah mempunyai tetapi belum kuat dalam mewujudkan di dalam program dan kegiatannya, suatu pernghargaan yang lebih bersifat jungkitan moral pantas dipersembahkan. Dengan cara ini, maka pemda yang selama ini senantiasa menggaungkan slogan penuh dengan jargon iptek, tetapi belum tecermin dalam kualitas sumberdaya manusia yang dimiliki, kelembagaan yang mendukung pengembangan iptek, sarana dan prasarana iptek, program-program yang menggairahkan berkiprahnya insan-insan untuk berkreasi dan berinovasi serta pengalokasian anggaran iptek, agar segera sadar. Tanpa kehadiran iptek, suatu bangunan daya saing yang menempatkan posisi unggul suatu daerah di antara daerah lain merupakan "hil yang mustahal", kata almarhum Asmuni.
Mendorong dan memotivasi pemda untuk semakin banyak memanfaatkan kandungan iptek dalam pengembangan program dan kegiatan bukanlah pekerjaan mudah. Meskipun demikian, hal penting tersebut perlu ditempuh. Penghargaan kepada inovator dan inventor sebenarnya sudah lama dilakukan selama ini. Paling tidak setiap memperingati Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas), Kementerian Negara Riset dan Teknologi senantiasa memberikan penghargaan kepada peneliti di litbang untuk penemu/pengembang iptek, pihak industri yang dalam proses produksi menggunakan kandungan dan sarana dan prasarana iptek, dan anggota masyarakat (grass root) yang terbukti dengan penemuannya telah berjasa secara signifikan bagi diri dan lingkungan masyarakatnya. Untuk katregori peneliti tahun 2009 ini telah berpindah ke Depdiknas, sedangkan di KNRT muncul kategori baru untuk penghargaan, yaitu pemerintah daerah kota/kabupaten.
Penghargaan dan apresiasi diberikan kepada pemerintah daerah kota/kabupaten di seluruh Indonesia yang sudah menempatkan iptek sesuai dengan maqomnya. Ini sekaligus mengingatkan pemda yang masih lebih banyak terbuai mengejar citra dan kemegahan membangun berbagai monumen dan gedung raksasa yang efektivitasnya dipertanyakan. Tulisan ini sekaligus ingin menggaris bawahi pada penghargaan itu, bahwa di tengah berbagai gegap gempita dan pesta politik yang mengharu biru seluruh anak bangsa, terdapat pemda yang masih peduli pada peran iptek untuk mengangkat derajat dan martabat rakyat yang telah memberikan kepercayaan mengatur daerah dan memberdayakan sumberdaya manusia dan masyarakat setempat. (Harian Media Indonesia, Selasa 11 Agustus 2009/humasristek)
Selasa, 11 Agustus 2009
Penegakan Software Legal Dengan Migrasi ke OSS
Penegakan Software Legal Dengan Migrasi ke OSS
Selasa,28 Juli 2009 10:33
Kemal Prihatman
Asdep Urusan Pengembangan dan Pemanfaatan Teknologi Informasi
Indonesia saat ini masih berada dalam peringkat teratas negara pengguna perangkat lunak ilegal. Ini salah satu penyebab yang membuat citra Indonesia menjadi yang kurang baik di mata dunia. Berdasarkan survei International Data Corporation (IDC) tahun 2007, Indonesia berada pada urutan ke-12 dari 108 negara dengan angka penggunaan perangkat lunak ilegal mencapai 84%. Angka prosentase ini menunjukan perbaikan dibandingkan dengan tahun sebelumnya, yakni pada 2006 yang mencapai 85%. Meski begitu dari sisi peringkat justru turun. Kalau pada 2006 Indonesia menempati peringkat ke-8, tahun 2007 justru turun menempati posisi ke-12.
Dampak yang terasa terhadap adanya isu negatif ini adalah dari sisi investasi. Investor menjadi kurang tertarik untuk berinvestasi di Indonesia dan peluang negara ini untuk menjadi salah satu tujuan investasi dunia pun berkurang. Upaya perbaikan citra sebagai negara pengguna perangkat lunak legal yang masuk peringkat dunia akan mengakibatkan perbaikan iklim investasi di Indonesia.
Berbagai upaya telah dilakukan dalam memperbaiki citra ini. Pada tahun 2006 dibentuk Tim Nasional Penanggulangan Pelanggaran HKI (Timnas HKI) berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) No. 4/2006 yang tugas utamanya adalah menanggulangi pelanggaran HKI (Hak Kekayaan Intelektual) dengan menentukan kebijakan nasional dan langkah-langkah strategis yang dibutuhkan dalam penegakan HKI. Upaya lain pemerintah dalam usaha penegakan hukum ini tercermin dengan diluncurkannya program yang fokus dari Dewan TIK Nasional (DeTIKNas), yaitu flagship Legal Software, dengan tujuan untuk menggalakkan penggunaan perangkat lunak legal, baik dengan memanfaatkan perangkat lunak open source, free software maupun yang proprietary. Selain itu, ada juga pencanangan gerakan Indonesia Go Open Source! (IGOS) pada tahun 2004 yang merupakan upaya bersama dalam menggalang berbagai stakeholder akademisi, pebisnis, pemerintah dan komunitas untuk mengembangkan dan memanfaatkan perangkat lunak legal yang berbasis open source software.
Penegakkan sadar penggunaan perangkat lunak legal yang dicanangkan pemerintah tersebut tentunya tidak hanya berwawasan penanggulangan dengan melakukan swepping kepada pengguna perangkat lunak ilegal, akan tetapi juga pemerintah harus memberikan alternatif pilihan jalan keluar bagi para pengguna yang tidak mampu membeli lisensi perangkat lunak yang cukup mahal. Kemampuan keuangan pemerintah untuk mengoreksi citra negatif tersebut saat ini terbatas terlebih dengan keadaan ekonomi yang tidak menentu, seraya menuntut semua kalangan untuk lebih kreatif dalam mengembangkan usahanya, tidak terkecuali dalam penggunaan komputer—sebab komputer merupakan salah satu alat yang hampir pasti dibutuhkan oleh setiap organisasi. Ketepatan pemilihan perangkat lunak dan perangkat keras komputer sangat menentukan jumlah biaya dan sumber daya manusia (dari sisi kualitas dan kuantitasnya).
Ada beberapa alasan yang dapat dijadikan dasar untuk melirik upaya migrasi ke open source sebagai platform utama, antara lain:
Kemadirian. Pemilihan perangkat lunak open source menjadikan pengguna memiliki akses terhadap sumber kode, sehingga memberikan fleksibilitas dan kebebasan kepada pengguna individu atau instansi. Pengguna dapat memilih, mengganti dan mengembangkan paket perangkat lunak, berganti platform atau vendor yang berbeda dengan tanpa menimbulkan masalah.
Kesempatan mengejar ketertinggalan. Dengan sifatnya yang memiliki sumber kode terbuka, ini mengakibatkan para pengembang lokal (Indonesia) dapat lebih cepat dalam mengembangkan aplikasi yang disesuaikan dengan kebutuhan pengguna. Dampak dari pengembangan perangkat lunak open source ini adalah percepatan kesempatan penyediaan lapangan kerja bagi tenaga ahli teknologi informasi (Tl) yang dapat menyumbang kepada Produk Domestik Bruto (PDB) secara signifikan.
Untuk kondisi Indonesia, kelebihan open source adalah adanya penghematan biaya bagi para pengguna. Komponen biaya yang dapat dihemat, antara lain, biaya bayar lisensi perangkat lunak, biaya yang harus keluar karena gangguan virus, biaya yang harus dikeluarkan ketika data hilang karena kesalahan program di sistem atau biaya paket perangkat lunak, upgrade dan service. Dari sisi biaya lisensi saja dapat dibayangkan berapa biaya yang dapat dihemat apabila diterapkan dalam jumlah jutaan komputer.
Berbagai alasan teknis, seperti skalabilitas penggunaan open source kini sudah sangat meluas, kinerja open source yang mampu berjalan dengan normal di mesin dengan kemampuan rendah, kehandalan yang dimiliki sistem operasi ini sudah tidak diragukan lagi, maupun keamanan sistem— di mana open source merupakan sistem yang terbuka, maka sangat kecil kemungkinan untuk dimasuki program program yang dapat merusak sistem.
Migrasi ke Open Source Software
Secara umum dalam melaksanakan penerapan perangkat lunak open source di lingkungan instansi pemerintah perlu dilakukan inventarisasi kebutuhan data dan pengguna yang meliputi: SDM dan edukasi, jenis berkas dan data, aplikasi yang ada, perusahaan penyedia layanan dan survei kondisi.
SDM merupakan hal yang penting di dalam kesuksesan implementasi TI. Hal ini dimaksudkan untuk memahami tingkat pengetahuan personal yang akan merawat dan mengadministrasi sistem. Pada dasarnya pelatihan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu pelatihan sambil bekerja (on the job training) atau pelatihan di luar tugas kerja (off the job training). Materi pelatihan yang diberikan umumnya meliputi penggunaan perangkat lunak open source, perawatan perangkat lunak open source dan administrasi perangkat lunak open source.
Hal lain yang perlu menjadi perhatian adalah berkas yang telah dibuat atau digunakan di instansi pemerintah di mana berkas ini harus dapat dibuka oleh perangkat lunak open source atau harus dicarikan program non open source jika tidak ditemukan program pengaksesnya di perangkat lunak open source. Selain itu perlu diperhatikan format data yang akan digunakan. Misalnya dokumen, apakah di masa mendatang akan tetap menggunakan format "de facto".doc standard, seperti MS Word dan Excel.xls atau menggunakan format standar yang lebih tepat (misalnya berbasiskan XML, seperti format Open Office). Di samping itu pemahaman tentang format ini memungkinkan persiapan penyediaan program konversi berkas yang dibutuhkan.
Langkah selanjutnya adalah mengidentifikasi apikasi yang dipakai, yaitu aplikasi umum dan spesifik yang dikembangkan oleh instansi pengguna. Dalam mengidentifikasi perangkat lunak ini perlu pula diketahui perangkat lunak pengganti. Beberapa aplikasi yang sudah dapat digantikan oleh perangkat lunak open source, antara lain: sistem operasi dan Graphical User Interface (GUI); program aplikasi perkantoran (Office); program aplikasi Internet (email, browser, chatting); program pengolah gambar (vector atau pun bitmap); program database dan layanan internet dan intranet; dan program database.
Ketersediaan dukungan teknis (technical support) terhadap migrasi penggunaan perangkat lunak open source perlu dilakukan mengingat dalam proses migrasi ini tentunya banyak hal baru yang perlu mendapat bimbingan atau memecahkan permasalahan penggunaan. Dukungan tim teknis ini dapat dikelola oleh instansi sendiri ataupun dengan melibatkan perusahaan (misalnya, Usaha Kecil Menengah (UKM) jasa lokal yang bergerak di bidang dukungan teknis, pelatihan, pengembangan software dan kustomisasi software/hardware.
Langkah selanjutnya yang perlu dilakukan adalah survei untuk mengetahui kondisi perangkat keras dan pendukung lain yang digunakan, jenis perangkat lunak yang digunakan, dan perangkat lunak pengganti.
Setelah dilakukan tahapan persiapan tersebut, ada 2 hal yang perlu dilakukan dalam migrasi ini, yaitu migrasi di sisi server dan desktop. Migrasi desktop lebih kompleks daripada server, karena banyak masalah. Misalnya, beragamnya jenis desktop dan pola penggunaan; jenis perangkat keras yang harus ditangani serta jenis aplikasi yang digunakan. Pemilihan jenis migrasi yang mana yang akan dilakukan tergantung dari tujuan pelaksanaan migrasi ini. Umumnya pelaksanaan migrasi dilaksanakan dari sisi server terlebih dahulu, baru kemudian dilakukan untuk komputer yang dipakai di sisi pengguna.
Secara umum langkah yang harus dilakukan dalam migrasi, antara lain:
Melakukan back up terhadap data/ dokumen perusahaan.
Melakukan instalasi sistem operasi open source di desktop.
Melakukan set up terhadap perangkat keras untuk disesuaikan dengan sistem operasi.
Melakukan instalasi sistem operasi open source di server.
Melakukan set up terhadap service-service yang ada di server.
Melakukan konversi terhadap data/dokumen dalam menyesuaikan environment sistem operasi.
Merampungkan pelatihan penggunaan baik untuk basic user dan advanced user. Pelatihan telah dimulai dari masa awal premigrasi, terutama bagian pengenalan operasi sistem dasar.
Melakukan finishing process.
Kendala yang Mungkin Terjadi
Dalam menerapkan suatu sistem yang baru, walau sangat bermanfaat, tentu pada awalnya akan menghadapi berbagai kesulitan. Dalam proses migrasi perangkat lunak legal ke open source tentunya akan menghadapi beberapa permasalahan. Apa saja? Pertama, adanya resistensi dari pengguna yang sudah terbiasa dengan produk perangkat lunak proprietary yang digunakan sebelumnya. Hal ini dianggap sebagai sesuatu yang menyulitkan dan proses adaptasinya akan memakan waktu. Mengubah kebiasaan yang sudah berlangsung lama bukanlah sesuatu usaha yang mudah.
Kedua adalah kemudahan untuk mendapatkan software ilegal di beberapa tempat penjual perangkat lunak. Walau saat ini banyak komputer yang dijual telah dilengkapi (dibundel) dengan suatu sistem operasi, aplikasi lain yang berjalan di atasnya yang sesuai dengan kebutuhan masih ada yang menggunakan software ilegal. Selama ada kemudahan dan ketersediaan perangkat lunak ilegal akan sulit melakukan migrasi dengan perangkat lunak open source. Kendala ketiga adalah adanya anggapan kendala dalam kompabilitas dengan hardware dan software lainnya.
Kesulitan dan kendala tersebut sebetulnya tidak perlu membuat kita bimbang. Ada beberapa hal yang patut menjadi pertimbangan, yaitu: pertama, tingkat kompleksitas pengolahan dokumen sebenarnya tidak terlalu tinggi. Umumnya para pengguna hanya menggunakan fasilitas/menu-menu standar yang disediakan pada aplikasi. Dapat dikatakan hanya 60% dari semua fungsi yang disediakan. Selain itu pemanfaatan fungsi khusus yang disediakan pada menu aplikasi hanya digunakan oleh sebagian kecil pengguna. Fungsi-fungsi layanan pada menu perangkat lunak proprietary umumnya telah tersedia di perangkat lunak open source, bahkan untuk hal-hal tertentu lebih baik.
Kedua, beberapa perangkat lunak open source memiliki harga jual nol rupiah, karena dapat di-download secara legal dan tanpa dipungut biaya. Untuk layanan perawatan (maintanance) tetap harus membayar dan bagian utama yang diuntungkan adalah pihak penyedia jasa lokal (bangsa Indonesia), bukan seperti perangkat lunak proprietary yang lisensinya sepenuhnya dibayarkan ke pihak asing sebagaimana yang terjadi saat ini.
Dari segi kualitas, perangkat lunak open source juga tidak kalah dibandingkan dengan kualitas perangkat lunak yang umum dibajak. Kompatibilitasnya sangat baik, dalam arti lebih dari 95% dokumen yang telah dibuat sebelumnya dengan perangkat lunak perkantoran dapat langsung digunakan oleh perangkat lunak open source.
Jadi, tidak ada halangan bagi dunia usaha Indonesia untuk menggunakan software yang baik tanpa harus membajak, yaitu dengan memanfaatkan software open source yang mudah didapatkan dengan harga murah. Open source sebagai salah satu software legal dapat dimanfaatkan sesuai dengan kebutuhaan dan kemampuan finansial lembaga pemerintah, pendidikan dan bisnis di Indonesia. Kekurangan dalam hal dukungan teknis terhadap produk open source memberikan peluang kerja dan usaha yang terkait. Ketersediaan source code juga merupakan kesempatan untuk menguasai Tl atau meningkatkan kemampuan sumber daya manusia, sehingga dapat dimanfaatkan dalam menghadapi persaingan global. Penguasaan software open source telah dan akan menjadikan bangsa Indonesia diakui setara dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Semoga. (Warta egov, No.01/Tahun IV/Juni-Agustus 2009/ humasristek)
Selasa,28 Juli 2009 10:33
Kemal Prihatman
Asdep Urusan Pengembangan dan Pemanfaatan Teknologi Informasi
Indonesia saat ini masih berada dalam peringkat teratas negara pengguna perangkat lunak ilegal. Ini salah satu penyebab yang membuat citra Indonesia menjadi yang kurang baik di mata dunia. Berdasarkan survei International Data Corporation (IDC) tahun 2007, Indonesia berada pada urutan ke-12 dari 108 negara dengan angka penggunaan perangkat lunak ilegal mencapai 84%. Angka prosentase ini menunjukan perbaikan dibandingkan dengan tahun sebelumnya, yakni pada 2006 yang mencapai 85%. Meski begitu dari sisi peringkat justru turun. Kalau pada 2006 Indonesia menempati peringkat ke-8, tahun 2007 justru turun menempati posisi ke-12.
Dampak yang terasa terhadap adanya isu negatif ini adalah dari sisi investasi. Investor menjadi kurang tertarik untuk berinvestasi di Indonesia dan peluang negara ini untuk menjadi salah satu tujuan investasi dunia pun berkurang. Upaya perbaikan citra sebagai negara pengguna perangkat lunak legal yang masuk peringkat dunia akan mengakibatkan perbaikan iklim investasi di Indonesia.
Berbagai upaya telah dilakukan dalam memperbaiki citra ini. Pada tahun 2006 dibentuk Tim Nasional Penanggulangan Pelanggaran HKI (Timnas HKI) berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) No. 4/2006 yang tugas utamanya adalah menanggulangi pelanggaran HKI (Hak Kekayaan Intelektual) dengan menentukan kebijakan nasional dan langkah-langkah strategis yang dibutuhkan dalam penegakan HKI. Upaya lain pemerintah dalam usaha penegakan hukum ini tercermin dengan diluncurkannya program yang fokus dari Dewan TIK Nasional (DeTIKNas), yaitu flagship Legal Software, dengan tujuan untuk menggalakkan penggunaan perangkat lunak legal, baik dengan memanfaatkan perangkat lunak open source, free software maupun yang proprietary. Selain itu, ada juga pencanangan gerakan Indonesia Go Open Source! (IGOS) pada tahun 2004 yang merupakan upaya bersama dalam menggalang berbagai stakeholder akademisi, pebisnis, pemerintah dan komunitas untuk mengembangkan dan memanfaatkan perangkat lunak legal yang berbasis open source software.
Penegakkan sadar penggunaan perangkat lunak legal yang dicanangkan pemerintah tersebut tentunya tidak hanya berwawasan penanggulangan dengan melakukan swepping kepada pengguna perangkat lunak ilegal, akan tetapi juga pemerintah harus memberikan alternatif pilihan jalan keluar bagi para pengguna yang tidak mampu membeli lisensi perangkat lunak yang cukup mahal. Kemampuan keuangan pemerintah untuk mengoreksi citra negatif tersebut saat ini terbatas terlebih dengan keadaan ekonomi yang tidak menentu, seraya menuntut semua kalangan untuk lebih kreatif dalam mengembangkan usahanya, tidak terkecuali dalam penggunaan komputer—sebab komputer merupakan salah satu alat yang hampir pasti dibutuhkan oleh setiap organisasi. Ketepatan pemilihan perangkat lunak dan perangkat keras komputer sangat menentukan jumlah biaya dan sumber daya manusia (dari sisi kualitas dan kuantitasnya).
Ada beberapa alasan yang dapat dijadikan dasar untuk melirik upaya migrasi ke open source sebagai platform utama, antara lain:
Kemadirian. Pemilihan perangkat lunak open source menjadikan pengguna memiliki akses terhadap sumber kode, sehingga memberikan fleksibilitas dan kebebasan kepada pengguna individu atau instansi. Pengguna dapat memilih, mengganti dan mengembangkan paket perangkat lunak, berganti platform atau vendor yang berbeda dengan tanpa menimbulkan masalah.
Kesempatan mengejar ketertinggalan. Dengan sifatnya yang memiliki sumber kode terbuka, ini mengakibatkan para pengembang lokal (Indonesia) dapat lebih cepat dalam mengembangkan aplikasi yang disesuaikan dengan kebutuhan pengguna. Dampak dari pengembangan perangkat lunak open source ini adalah percepatan kesempatan penyediaan lapangan kerja bagi tenaga ahli teknologi informasi (Tl) yang dapat menyumbang kepada Produk Domestik Bruto (PDB) secara signifikan.
Untuk kondisi Indonesia, kelebihan open source adalah adanya penghematan biaya bagi para pengguna. Komponen biaya yang dapat dihemat, antara lain, biaya bayar lisensi perangkat lunak, biaya yang harus keluar karena gangguan virus, biaya yang harus dikeluarkan ketika data hilang karena kesalahan program di sistem atau biaya paket perangkat lunak, upgrade dan service. Dari sisi biaya lisensi saja dapat dibayangkan berapa biaya yang dapat dihemat apabila diterapkan dalam jumlah jutaan komputer.
Berbagai alasan teknis, seperti skalabilitas penggunaan open source kini sudah sangat meluas, kinerja open source yang mampu berjalan dengan normal di mesin dengan kemampuan rendah, kehandalan yang dimiliki sistem operasi ini sudah tidak diragukan lagi, maupun keamanan sistem— di mana open source merupakan sistem yang terbuka, maka sangat kecil kemungkinan untuk dimasuki program program yang dapat merusak sistem.
Migrasi ke Open Source Software
Secara umum dalam melaksanakan penerapan perangkat lunak open source di lingkungan instansi pemerintah perlu dilakukan inventarisasi kebutuhan data dan pengguna yang meliputi: SDM dan edukasi, jenis berkas dan data, aplikasi yang ada, perusahaan penyedia layanan dan survei kondisi.
SDM merupakan hal yang penting di dalam kesuksesan implementasi TI. Hal ini dimaksudkan untuk memahami tingkat pengetahuan personal yang akan merawat dan mengadministrasi sistem. Pada dasarnya pelatihan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu pelatihan sambil bekerja (on the job training) atau pelatihan di luar tugas kerja (off the job training). Materi pelatihan yang diberikan umumnya meliputi penggunaan perangkat lunak open source, perawatan perangkat lunak open source dan administrasi perangkat lunak open source.
Hal lain yang perlu menjadi perhatian adalah berkas yang telah dibuat atau digunakan di instansi pemerintah di mana berkas ini harus dapat dibuka oleh perangkat lunak open source atau harus dicarikan program non open source jika tidak ditemukan program pengaksesnya di perangkat lunak open source. Selain itu perlu diperhatikan format data yang akan digunakan. Misalnya dokumen, apakah di masa mendatang akan tetap menggunakan format "de facto".doc standard, seperti MS Word dan Excel.xls atau menggunakan format standar yang lebih tepat (misalnya berbasiskan XML, seperti format Open Office). Di samping itu pemahaman tentang format ini memungkinkan persiapan penyediaan program konversi berkas yang dibutuhkan.
Langkah selanjutnya adalah mengidentifikasi apikasi yang dipakai, yaitu aplikasi umum dan spesifik yang dikembangkan oleh instansi pengguna. Dalam mengidentifikasi perangkat lunak ini perlu pula diketahui perangkat lunak pengganti. Beberapa aplikasi yang sudah dapat digantikan oleh perangkat lunak open source, antara lain: sistem operasi dan Graphical User Interface (GUI); program aplikasi perkantoran (Office); program aplikasi Internet (email, browser, chatting); program pengolah gambar (vector atau pun bitmap); program database dan layanan internet dan intranet; dan program database.
Ketersediaan dukungan teknis (technical support) terhadap migrasi penggunaan perangkat lunak open source perlu dilakukan mengingat dalam proses migrasi ini tentunya banyak hal baru yang perlu mendapat bimbingan atau memecahkan permasalahan penggunaan. Dukungan tim teknis ini dapat dikelola oleh instansi sendiri ataupun dengan melibatkan perusahaan (misalnya, Usaha Kecil Menengah (UKM) jasa lokal yang bergerak di bidang dukungan teknis, pelatihan, pengembangan software dan kustomisasi software/hardware.
Langkah selanjutnya yang perlu dilakukan adalah survei untuk mengetahui kondisi perangkat keras dan pendukung lain yang digunakan, jenis perangkat lunak yang digunakan, dan perangkat lunak pengganti.
Setelah dilakukan tahapan persiapan tersebut, ada 2 hal yang perlu dilakukan dalam migrasi ini, yaitu migrasi di sisi server dan desktop. Migrasi desktop lebih kompleks daripada server, karena banyak masalah. Misalnya, beragamnya jenis desktop dan pola penggunaan; jenis perangkat keras yang harus ditangani serta jenis aplikasi yang digunakan. Pemilihan jenis migrasi yang mana yang akan dilakukan tergantung dari tujuan pelaksanaan migrasi ini. Umumnya pelaksanaan migrasi dilaksanakan dari sisi server terlebih dahulu, baru kemudian dilakukan untuk komputer yang dipakai di sisi pengguna.
Secara umum langkah yang harus dilakukan dalam migrasi, antara lain:
Melakukan back up terhadap data/ dokumen perusahaan.
Melakukan instalasi sistem operasi open source di desktop.
Melakukan set up terhadap perangkat keras untuk disesuaikan dengan sistem operasi.
Melakukan instalasi sistem operasi open source di server.
Melakukan set up terhadap service-service yang ada di server.
Melakukan konversi terhadap data/dokumen dalam menyesuaikan environment sistem operasi.
Merampungkan pelatihan penggunaan baik untuk basic user dan advanced user. Pelatihan telah dimulai dari masa awal premigrasi, terutama bagian pengenalan operasi sistem dasar.
Melakukan finishing process.
Kendala yang Mungkin Terjadi
Dalam menerapkan suatu sistem yang baru, walau sangat bermanfaat, tentu pada awalnya akan menghadapi berbagai kesulitan. Dalam proses migrasi perangkat lunak legal ke open source tentunya akan menghadapi beberapa permasalahan. Apa saja? Pertama, adanya resistensi dari pengguna yang sudah terbiasa dengan produk perangkat lunak proprietary yang digunakan sebelumnya. Hal ini dianggap sebagai sesuatu yang menyulitkan dan proses adaptasinya akan memakan waktu. Mengubah kebiasaan yang sudah berlangsung lama bukanlah sesuatu usaha yang mudah.
Kedua adalah kemudahan untuk mendapatkan software ilegal di beberapa tempat penjual perangkat lunak. Walau saat ini banyak komputer yang dijual telah dilengkapi (dibundel) dengan suatu sistem operasi, aplikasi lain yang berjalan di atasnya yang sesuai dengan kebutuhan masih ada yang menggunakan software ilegal. Selama ada kemudahan dan ketersediaan perangkat lunak ilegal akan sulit melakukan migrasi dengan perangkat lunak open source. Kendala ketiga adalah adanya anggapan kendala dalam kompabilitas dengan hardware dan software lainnya.
Kesulitan dan kendala tersebut sebetulnya tidak perlu membuat kita bimbang. Ada beberapa hal yang patut menjadi pertimbangan, yaitu: pertama, tingkat kompleksitas pengolahan dokumen sebenarnya tidak terlalu tinggi. Umumnya para pengguna hanya menggunakan fasilitas/menu-menu standar yang disediakan pada aplikasi. Dapat dikatakan hanya 60% dari semua fungsi yang disediakan. Selain itu pemanfaatan fungsi khusus yang disediakan pada menu aplikasi hanya digunakan oleh sebagian kecil pengguna. Fungsi-fungsi layanan pada menu perangkat lunak proprietary umumnya telah tersedia di perangkat lunak open source, bahkan untuk hal-hal tertentu lebih baik.
Kedua, beberapa perangkat lunak open source memiliki harga jual nol rupiah, karena dapat di-download secara legal dan tanpa dipungut biaya. Untuk layanan perawatan (maintanance) tetap harus membayar dan bagian utama yang diuntungkan adalah pihak penyedia jasa lokal (bangsa Indonesia), bukan seperti perangkat lunak proprietary yang lisensinya sepenuhnya dibayarkan ke pihak asing sebagaimana yang terjadi saat ini.
Dari segi kualitas, perangkat lunak open source juga tidak kalah dibandingkan dengan kualitas perangkat lunak yang umum dibajak. Kompatibilitasnya sangat baik, dalam arti lebih dari 95% dokumen yang telah dibuat sebelumnya dengan perangkat lunak perkantoran dapat langsung digunakan oleh perangkat lunak open source.
Jadi, tidak ada halangan bagi dunia usaha Indonesia untuk menggunakan software yang baik tanpa harus membajak, yaitu dengan memanfaatkan software open source yang mudah didapatkan dengan harga murah. Open source sebagai salah satu software legal dapat dimanfaatkan sesuai dengan kebutuhaan dan kemampuan finansial lembaga pemerintah, pendidikan dan bisnis di Indonesia. Kekurangan dalam hal dukungan teknis terhadap produk open source memberikan peluang kerja dan usaha yang terkait. Ketersediaan source code juga merupakan kesempatan untuk menguasai Tl atau meningkatkan kemampuan sumber daya manusia, sehingga dapat dimanfaatkan dalam menghadapi persaingan global. Penguasaan software open source telah dan akan menjadikan bangsa Indonesia diakui setara dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Semoga. (Warta egov, No.01/Tahun IV/Juni-Agustus 2009/ humasristek)
artikel teknologi komputer
teknologi komputer
I. Komputer merupakan hasil industri canggih yang bermanfaat.
Komputer yang kita kenal saat ini adalah hasil pengembangan teknologi elektronika dan informatika sehingga bentuk komputer yang asalnya berukuran besar dan makan tempat, sekarang berbentuk kecil dengan kemampuan besar. Kemajuan industri komponen elektronika IC (integrated circuit) telah mendorong terciptanya berbagai perangkat chip IC yang beragam dan mendukung berbagai keperluan pembuatan produk elektronik. Kemajuan teknologi elektronika tidak terlepas dari adanya kemajuan dibidang pengetahuan dan pengolahan bahan semikonduktor khususnya silicon.
Manfaat komputer saat ini cukup beragam mulai sebagai alat bantu menulis, menggambar, mengedit foto, memutar video, memutar lagu sampai analisis data hasil penelitian maupun untuk mengoperasikan program-program penyelesaian problem-problem ilmiah, industri dan bisinis. Dunia anak telah lama mengenal alat permainan game yang dikendalikan oleh sistem komputer. Di bidang industri, komputer telah dipergunakan untuk mengontrol mesin-mesin produksi dengan ketepatan tinggi (misalnya CNC, sebuah mesin serba guna dalam industri metal) sehingga dapat kita jumpai berbagai produk industri logam yang bervariasi dan kita bayangkan sulit apabila dikerjakan secara manual. Banyak pula mesin-mesin dalam industri garmen dilengkapi dengan kontrol komputer, misalnya perusahaan topi bodir dapat memproduksi topi dengan kualitas gambar bordir yang seragam dalam jumlah banyak dalam waktu singkat. Di perusahaan dagang seperti department store telah dipergunakan mesin cash register (mesin kasir) yang dilengkapi dengan kontrol komputer sehingga mesin tersebut dapat dikontrol oleh pihak manajer hanya dari ruangan kerjanya saja. Di bidang pendidikan, selain dijumpai sebagai alat bantu pelajaran, banyak peralatan laboratorium yang dilengkapi dengan komputer sehingga alat tersebut dapat bekerja lebih teliti dan dapat mengatasi kendala hambatan indra manusia. Dari bidang pendidikan dan riset yang mempergunakan alat-alat demikian dihasilkan berbagai hasil penelitian yang bermanfaat yang tidak terasa sudah banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat banyak. Beragam obat baik untuk keperluan kesehatan manusia maupun pertanian dan peternakan telah banyak dipergunakan oleh masyarakat. Dalam bidang bioteknologi, peralatan-peralatan kultur telah banyak yang dilengkapi dengan kontrol komputer untuk mengusahakan ketelitian kerja pada ruang steril. Perusahaan Australia telah mengembangkan robot untuk keperluan bioteknologi ini. Penerapan kontrol komputer yang tercanggih terdapat di pesawat terbang dan pesawat angkasa. Untuk dapat mengatasi berbagai kendala alam dan sulit dilakukan oleh seorang pilot secara manual, sebuah pesawat terbang dapat dikendalikan secara otomatis sehingga bisa terbang dengan selamat di tujuan.
Demikian besarnya manfaat komputer, untuk itu dalam tulisan ini diperkenalkan mengenai sebuah komputer dan bagaimana merakitnya. Dalam tulisan ini tidak dijelaskan secara teliti bagaimana membangun sebuah rangkaian elektronik komputer ataupun membangun sebuah perangkat lunak komputer (software), untuk dapat mengetahui hal ini anda masih harus kuliah di bidang Elektronika dan Informatika. Tulisan ini dimaksudkan agar anda tidak salah mengenal komputer ataupun memahaminya, dengan anda dapat mengenal bagian-bagian komputer, merakitnya dan mengenal cara bekerjanya khususnya mengenal cara mengoperasikan software aplikasinya maka anda akan merasakan manfaat komputer yang demikian besar. Di sinipun tidak diuraikan mengenai sejarah penemuan komputer, hanya perlu anda yakini bahwa komputer adalah hasil industri yang memanfaatkan berbagai hasil penelitian dan pengujian dari bebeberapa bidang keilmuan. Misalnya keilmuan bidang elektronika, informatika, manajemen, kimia bahan, fisika bahan, kimia fisik, elektrokimia dan lain-lain.
I. Komputer merupakan hasil industri canggih yang bermanfaat.
Komputer yang kita kenal saat ini adalah hasil pengembangan teknologi elektronika dan informatika sehingga bentuk komputer yang asalnya berukuran besar dan makan tempat, sekarang berbentuk kecil dengan kemampuan besar. Kemajuan industri komponen elektronika IC (integrated circuit) telah mendorong terciptanya berbagai perangkat chip IC yang beragam dan mendukung berbagai keperluan pembuatan produk elektronik. Kemajuan teknologi elektronika tidak terlepas dari adanya kemajuan dibidang pengetahuan dan pengolahan bahan semikonduktor khususnya silicon.
Manfaat komputer saat ini cukup beragam mulai sebagai alat bantu menulis, menggambar, mengedit foto, memutar video, memutar lagu sampai analisis data hasil penelitian maupun untuk mengoperasikan program-program penyelesaian problem-problem ilmiah, industri dan bisinis. Dunia anak telah lama mengenal alat permainan game yang dikendalikan oleh sistem komputer. Di bidang industri, komputer telah dipergunakan untuk mengontrol mesin-mesin produksi dengan ketepatan tinggi (misalnya CNC, sebuah mesin serba guna dalam industri metal) sehingga dapat kita jumpai berbagai produk industri logam yang bervariasi dan kita bayangkan sulit apabila dikerjakan secara manual. Banyak pula mesin-mesin dalam industri garmen dilengkapi dengan kontrol komputer, misalnya perusahaan topi bodir dapat memproduksi topi dengan kualitas gambar bordir yang seragam dalam jumlah banyak dalam waktu singkat. Di perusahaan dagang seperti department store telah dipergunakan mesin cash register (mesin kasir) yang dilengkapi dengan kontrol komputer sehingga mesin tersebut dapat dikontrol oleh pihak manajer hanya dari ruangan kerjanya saja. Di bidang pendidikan, selain dijumpai sebagai alat bantu pelajaran, banyak peralatan laboratorium yang dilengkapi dengan komputer sehingga alat tersebut dapat bekerja lebih teliti dan dapat mengatasi kendala hambatan indra manusia. Dari bidang pendidikan dan riset yang mempergunakan alat-alat demikian dihasilkan berbagai hasil penelitian yang bermanfaat yang tidak terasa sudah banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat banyak. Beragam obat baik untuk keperluan kesehatan manusia maupun pertanian dan peternakan telah banyak dipergunakan oleh masyarakat. Dalam bidang bioteknologi, peralatan-peralatan kultur telah banyak yang dilengkapi dengan kontrol komputer untuk mengusahakan ketelitian kerja pada ruang steril. Perusahaan Australia telah mengembangkan robot untuk keperluan bioteknologi ini. Penerapan kontrol komputer yang tercanggih terdapat di pesawat terbang dan pesawat angkasa. Untuk dapat mengatasi berbagai kendala alam dan sulit dilakukan oleh seorang pilot secara manual, sebuah pesawat terbang dapat dikendalikan secara otomatis sehingga bisa terbang dengan selamat di tujuan.
Demikian besarnya manfaat komputer, untuk itu dalam tulisan ini diperkenalkan mengenai sebuah komputer dan bagaimana merakitnya. Dalam tulisan ini tidak dijelaskan secara teliti bagaimana membangun sebuah rangkaian elektronik komputer ataupun membangun sebuah perangkat lunak komputer (software), untuk dapat mengetahui hal ini anda masih harus kuliah di bidang Elektronika dan Informatika. Tulisan ini dimaksudkan agar anda tidak salah mengenal komputer ataupun memahaminya, dengan anda dapat mengenal bagian-bagian komputer, merakitnya dan mengenal cara bekerjanya khususnya mengenal cara mengoperasikan software aplikasinya maka anda akan merasakan manfaat komputer yang demikian besar. Di sinipun tidak diuraikan mengenai sejarah penemuan komputer, hanya perlu anda yakini bahwa komputer adalah hasil industri yang memanfaatkan berbagai hasil penelitian dan pengujian dari bebeberapa bidang keilmuan. Misalnya keilmuan bidang elektronika, informatika, manajemen, kimia bahan, fisika bahan, kimia fisik, elektrokimia dan lain-lain.
Awal Sejarah Internet Indonesia
08 Agustus 2009
Awal Sejarah Internet Indonesia
RMS Ibrahim, Suryono Adisoemarta, Muhammad Ihsan, Robby Soebiakto, Putu, Firman Siregar, Adi Indrayanto merupakan beberapa nama-nama legendaris di awal pembangunan Internet Indonesia yang mungkin kurang banyak dikenal oleh khalayak Internet Indonesia di tahun 2000 ini. Masing-masing personal telah mengkontribusikan keahlian dan dedikasinya dalam membangun cuplikan-cuplikan sejarah jaringan komputer di Indonesia. Pada waktu itu di awal tahun 1990-an jaringan Internet di Indonesia lebih dikenal sebagai paguyuban network. Semangat kerjasama, kekeluargaan & gotong royong sangat hangat dan terasa diantara para pelakunya. Agak berbeda dengan suasana Internet Indonesia hari ini yang terasa lebih komersial dan individual di sebagian aktifitasnya terutama yang melibatkan perdagangan Internet.
Tulisan-tulisan tentang keberadaan jaringan Internet di Indonesia dapat di lihat di beberapa artikel di media cetak seperti KOMPAS berjudul "jaringan komputer biaya murah menggunakan radio" di akhir tahun 1990 / awal 1991-an. Juga beberapa artikel pendek di Majalah Elektron Himpunan Mahsiswa Elektro ITB di tahun 1989-an. Kebetulan saya adalah penulis sebagian dari artikel-artikel tersebut. Tidak terasa waktu demikian cepat berlalu, tanpa terasa hal itu telah melewati kita semua lebih dari 10 tahun yang lalu.
Inspirasi tulisan-tulisan awal Internet Indonesia datangnya dari kegiatan kami di amatir radio khususnya rekan-rekan di Amatir Radio Club (ARC) ITB di tahun 1986-an. Bermodal pesawat Rig HF SSB Kenwood TS430 milik Harya Sudirapratama YC1HCE dengan komputer Apple II milik YC1DAV sekitar belasan anak muda ITB seperti Harya Sudirapratama YC1HCE, J. Tjandra Pramudito YB3NR (sekarang dosen di UNPAR), Suryono Adisoemarta N5SNN (sekarang dosen di Texas,US) bersama saya YC1DAV kami berguru pada para senior amatir radio seperti Robby Soebiakto YB1BG, Achmad Zaini YB1HR, Yos YB2SV, YB0TD di band 40m. Mas Robby Soebiakto YB1BG merupakan suhu diantara para amatir radio di Indonesia khususnya untuk komunikasi data packet radio yang kemudian di dorong ke arah TCP/IP, teknologi packet radio TCP/IP yang kemudian di adopsi oleh rekan-rekan BPPT, LAPAN, UI, & ITB yang kemudian menjadi tumpuan PaguyubanNet di tahun 1992-1994-an. Mas Robby Soebiakto YB1BG adalah koordinator IP pertama dari AMPR-net (Amatir Packet Radio Network) yang di Internet dikenal dengan domain AMPR.ORG dan IP 44.132. Saat ini AMPR-net Indonesia di koordinir oleh penulis YC1DAV. Koordinasi dan aktifitas-nya mengharuskan seseorang untuk menjadi anggota ORARI dan di koordinasi melalui mailing list YBNET-L@ITB.ac.id.
Di tahun 1986-1987-an awal perkembangan jaringan paket radio di Indonesia Mas Robby YB1BG juga merupakan pionir dikalangan teman-teman amatir radio Indonesia yang mengkaitkan jaringan amatir Bulletin Board System (BBS) yang merupakan jaringan e-mail store and forward yang mengkaitkan banyak "server" BBS amatir radio seluruh dunia agar e-mail dapat berjalan dengan lancar. Di awal tahun 1990-an komunikasi antara saya yang waktu itu berada di Canada dengan panggilan YC1DAV/VE3 rekan-rekan amatir radio di Indonesia dilakukan melalui jaringan amatir radio ini. Dengan peralatan PC/XT dan walkie talkie 2 meteran, komunikasi antara Indonesia-Canada terus dilakukan dengan lancar melalui jaringan amatir radio. Mas Robby YB1BG ternyata berhasil membangun gateway amatir satelit di rumahnya di Cinere melalui satelit-satelit OSCAR milik amatir radio kemudian kami melakukan komunikasi lebih lanjut yang lebih cepat antara Indonesia-Canada. Pengetahuan secara perlahan di transfer melalui jaringan amatir radio ini.
RMS Ibrahim (biasa dipanggil Ibam) motor dibalik operasional-nya Internet di UI, saat tulisan ini ditulis berada di Singapura untuk meneruskan S3. Ibam pernah menjadi operator yang menjalankan gateway ke Internet dari UI yang merupakan bagian dari jaringan universitas di Indonesia UNINET. Protokol UUCP yang lebih sederhana daripada TCP/IP digunakan terutama digunakan untuk mentransfer e-mail & newsgroup. RMS Ibrahim juga merupakan pemegang pertama Country Code Top Level Domain (ccTLD) yang dikemudian hari dikenal sebagai IDNIC (http://www.idnic.net.id).
Muhammad Ihsan adalah staff peneliti di LAPAN Ranca Bungur tidak jauh dari Bogor yang di awal tahun 1990-an di dukung oleh kepala-nya Bu Adrianti dalam kerjasama dengan DLR (NASA-nya Jerman) mencoba mengembangkan jaringan komputer menggunakan teknologi packet radio pada band 70cm & 2m. Jaringan tersebut dikenal sebagai JASIPAKTA dengan dukungan DLR Jerman. Protokol TCP/IP di operasikan di atas protokol AX.25 pada infrastruktur packet radio. Pak Ihsan ini yang mengoperasikan relay penghubung antara ITB di Bandung dengan gateway Internet yang ada di BPPT.
Pak Firman Siregar merupakan salah seorang motor di BPPT yang mengoperasikan gateway packet radio bekerja pada band 70cm. PC 386 sederhana menjalankan program NOS di atas sistem operasi DOS digunakan sebagai gateway packet radio TCP/IP. IPTEKNET masih berada di tahapan sangat awal perkembangannya saluran komunikasi ke internet masih menggunakan X.25 melalui jaringan SKDP terkait pada gateway di DLR Jerman.
Putu sebuah nama yang melekat dengan perkembangan PUSDATA DEPRIN waktu masa kepemimpinan Pak Tungki Ariwibowo menjalankan BBS pusdata.dprin.go.id yang hingga saat ini masih beroperasi. Di masa awal perkembangannya BBS Pak Putu sangat berjasa dalam membangun pengguna e-mail khususnya di jakarta Pak Putu sangat beruntung mempunyai menteri Pak Tungki yang "maniac" IT dan yang mengesankan dari Pak Tungki beliau akan menjawab e-mail sendiri. Barangkali Pak Tungki adalah menteri pertama di Indonesia yang menjawab e-mail sendiri. Saya sempat terkagum-kagum memperoleh jawaban e-mail dari seorang menteri Pak Tungki yang waktu itu sedang berada di Amerika Selatan dalam kunjungan kerjanya. Bukan main, seorang menteri tapi tetap menyempatkan diri untuk membalas e-mail.
Mas Suryono Adisoemarta N5SNN di akhir 1992 kembali ke Indonesia, kesempatan tersebut tidak dilewatkan oleh anggota Amatir Radio Club ARC ITB seperti Basuki Suhardiman (sekarang di AI3 ITB), Aulia K. Arief (sekarang di WAHID), Arman Hazairin (sekarang di Telkomsel) di dukung oleh Adi Indrayanto (sekarang S3 di Inggris) untuk mencoba mengembangkan gateway packet radio di ITB. Berawal semangat & bermodalkan PC 286 bekas barangkali ITB merupakan lembaga yang paling miskin yang nekad untuk berkiprah di jaringan PaguyubanNet. Rekan lainnya seperti UI, BPPT, LAPAN, PUSDATA DEPRIN merupakan lembaga yang lebih dahulu terkait ke jaringan di tahun 1990-an mereka mempunyai fasilitas yang jauh lebih baik daripada ITB. Di ITB modem packet radio berupa Terminal Node Controller TNC merupakan peralatan pinjaman dari Muhammad Ihsan dari LAPAN.
Berawal dari teknologi packet radio 1200bps di atas, ITB kemudian berkembang di tahun 1995-an memperoleh sambungan leased line 14.4Kbps ke RISTI Telkom sebagai bagian dari IPTEKNET akses Internet tetap diberikan secara cuma-cuma kepada rekan-rekan yang lain. September 1996 merupakan tahun peralihan bagi ITB, karena keterkaitan ITB dengan jaringan penelitian Asia Internet Interconnection Initiatives (AI3) sehingga memperoleh bandwidth 1.5Mbps (sekarang 2Mbps) ke Jepang yang terus ditambah dengan sambungan ke TelkomNet & IIX sebesar 2Mbps. ITB akhirnya menjadi salah satu bagian terpenting dalam jaringan pendidikan di Indonesia yang menamakan dirinya AI3 Indonesia yang mengkaitkan 25+ lembaga pendidikan di Indonesia.
Jaringan pendidikan ini bukan hanya monopoly ITB saja, jaringan pendidikan lain yang lebih besar lagi adalah jaringan SMK yang dibawahi DIKMENJUR (dikmenjur@egroups.com) yang saat ini telah mengkaitkan 270+ SMK di seluruh Indonesia. Saat ini ada 4000 SMK yang mempunyai potensi yang sangat besar jika berhasil dikaitkan. Belum lagi kalau bisa mengkaitkan 10.000 SMU ke Internet pasti tidak kalah serunya dengan mengkaitkan 1300 PTN / PTS (saat ini baru ~200 PTS/PTN yang terkait) di seluruh Indonesia ke Internet.
Di tahun 1989-1990-an, teman-teman mahasiswa Indonesia di luar negeri mulai membangun tempat diskusi di Internet, salah satu tempat diskusi Indonesia di Internet yang pertama berada di indonesians@janus.berkeley.edu. Berawal dari mailing list pertama di Janus diskusi-diskusi antar teman-teman mahasiswa Indonesia diluar negeri pemikiran alternatif berserta kesadaran masyarakat ditumbuhkan. Pola mailing list ini ternyata terus berkembang dari sebuah mailing list legendaris di janus, akhirnya menjadi sangat banyak sekali mailing list Indonesia terutama di host oleh server di ITB & egroups.com. Mailing list ini akhirnya menjadi salah satu sarana yang sangat strategis dalam pembangunan komunitas di Internet Indonesia.
Di tahun 1994-an mulai beroperasi IndoNet yang dipimpin oleh Sanjaya. IndoNet merupakan ISP komersial pertama Indonesia pada waktu itu pihak POSTEL belum mengetahui tentang celah-celah bisnis Internet & masih sedikit sekali pengguna Internet di Indonesia. Seingat saya sambungan awal ke Internet dilakukan menggunakan dial-up oleh IndoNet, sebuah langkah yang cukup nekad barangkali. Lokasi IndoNet masih di daerah Rawamangun di kompleks dosen UI kebetulan ayah Sanjaya adalah dosen UI. Seperti kita ketahui bahwa perkembangan usaha bisnis Internet di Indonesia semakin marak dengan 60-an ISP yang memperoleh lisensi dari pemerintah. Asosiasi ISP (APJII) terbentuk di motori oleh Sanjaya cs di tahun 1998-an. Effisiensi sambungan antar ISP terus dilakukan dengan membangun beberapa Internet Exchange (IX) di Indosat, Telkom, APJII (IIX) & beberapa ISP lainnya yang saling exchange. APJII bahkan mulai melakukan manouver untuk memperbesar pangsa pasar Internet di Indonesia dengan melakukan program SMU2000 yang kemudian berkembang menjadi Sekolah2000.
Perkembangan terakhir yang perlu diperhitungkan adalah trend ke arah e-commerce dan warung internet yang satu & lainnya saling menunjang membuahkan masyarakat Indonesia yang lebih solid di dunia informasi. Rekan-rekan e-commerce membangun komunitasnya di beberapa mailing list utama seperti warta-e-commerce@egroups.com, mastel-e-commerce@egroups.com, e-commerce@itb.ac.id & i2bc@egroups.com. Sedangkan rekan-rekan penyelenggara WARNET banyak berkumpul di asosiasi-warnet@egroups.com, pada tanggal 25 Mei 2000 merupakan hari bersejarah bagi rekan-rekan WARNET - karena telah lahir asosiasi warnet yang ada secara fisik dalam pertemuan di kantor DIKMENJUR. Ketua Asosiasi Warnet adalah rekan Rudy Rusdiah, Bendahara rekan Adlinsyah dan Sekretaris Abdullah Koro. WARNET di Indonesia akan disediakan domain war.net.id.
Demikian kilasan sejarah Internet di Indonesia, kami sadar bahwa perjuangan kami masih panjang. Masih banyak hal yang perlu diperjuangkan terus agar dapat menggerakan bangsa Indonesia menuju knowledge based society.
Awal Sejarah Internet Indonesia
RMS Ibrahim, Suryono Adisoemarta, Muhammad Ihsan, Robby Soebiakto, Putu, Firman Siregar, Adi Indrayanto merupakan beberapa nama-nama legendaris di awal pembangunan Internet Indonesia yang mungkin kurang banyak dikenal oleh khalayak Internet Indonesia di tahun 2000 ini. Masing-masing personal telah mengkontribusikan keahlian dan dedikasinya dalam membangun cuplikan-cuplikan sejarah jaringan komputer di Indonesia. Pada waktu itu di awal tahun 1990-an jaringan Internet di Indonesia lebih dikenal sebagai paguyuban network. Semangat kerjasama, kekeluargaan & gotong royong sangat hangat dan terasa diantara para pelakunya. Agak berbeda dengan suasana Internet Indonesia hari ini yang terasa lebih komersial dan individual di sebagian aktifitasnya terutama yang melibatkan perdagangan Internet.
Tulisan-tulisan tentang keberadaan jaringan Internet di Indonesia dapat di lihat di beberapa artikel di media cetak seperti KOMPAS berjudul "jaringan komputer biaya murah menggunakan radio" di akhir tahun 1990 / awal 1991-an. Juga beberapa artikel pendek di Majalah Elektron Himpunan Mahsiswa Elektro ITB di tahun 1989-an. Kebetulan saya adalah penulis sebagian dari artikel-artikel tersebut. Tidak terasa waktu demikian cepat berlalu, tanpa terasa hal itu telah melewati kita semua lebih dari 10 tahun yang lalu.
Inspirasi tulisan-tulisan awal Internet Indonesia datangnya dari kegiatan kami di amatir radio khususnya rekan-rekan di Amatir Radio Club (ARC) ITB di tahun 1986-an. Bermodal pesawat Rig HF SSB Kenwood TS430 milik Harya Sudirapratama YC1HCE dengan komputer Apple II milik YC1DAV sekitar belasan anak muda ITB seperti Harya Sudirapratama YC1HCE, J. Tjandra Pramudito YB3NR (sekarang dosen di UNPAR), Suryono Adisoemarta N5SNN (sekarang dosen di Texas,US) bersama saya YC1DAV kami berguru pada para senior amatir radio seperti Robby Soebiakto YB1BG, Achmad Zaini YB1HR, Yos YB2SV, YB0TD di band 40m. Mas Robby Soebiakto YB1BG merupakan suhu diantara para amatir radio di Indonesia khususnya untuk komunikasi data packet radio yang kemudian di dorong ke arah TCP/IP, teknologi packet radio TCP/IP yang kemudian di adopsi oleh rekan-rekan BPPT, LAPAN, UI, & ITB yang kemudian menjadi tumpuan PaguyubanNet di tahun 1992-1994-an. Mas Robby Soebiakto YB1BG adalah koordinator IP pertama dari AMPR-net (Amatir Packet Radio Network) yang di Internet dikenal dengan domain AMPR.ORG dan IP 44.132. Saat ini AMPR-net Indonesia di koordinir oleh penulis YC1DAV. Koordinasi dan aktifitas-nya mengharuskan seseorang untuk menjadi anggota ORARI dan di koordinasi melalui mailing list YBNET-L@ITB.ac.id.
Di tahun 1986-1987-an awal perkembangan jaringan paket radio di Indonesia Mas Robby YB1BG juga merupakan pionir dikalangan teman-teman amatir radio Indonesia yang mengkaitkan jaringan amatir Bulletin Board System (BBS) yang merupakan jaringan e-mail store and forward yang mengkaitkan banyak "server" BBS amatir radio seluruh dunia agar e-mail dapat berjalan dengan lancar. Di awal tahun 1990-an komunikasi antara saya yang waktu itu berada di Canada dengan panggilan YC1DAV/VE3 rekan-rekan amatir radio di Indonesia dilakukan melalui jaringan amatir radio ini. Dengan peralatan PC/XT dan walkie talkie 2 meteran, komunikasi antara Indonesia-Canada terus dilakukan dengan lancar melalui jaringan amatir radio. Mas Robby YB1BG ternyata berhasil membangun gateway amatir satelit di rumahnya di Cinere melalui satelit-satelit OSCAR milik amatir radio kemudian kami melakukan komunikasi lebih lanjut yang lebih cepat antara Indonesia-Canada. Pengetahuan secara perlahan di transfer melalui jaringan amatir radio ini.
RMS Ibrahim (biasa dipanggil Ibam) motor dibalik operasional-nya Internet di UI, saat tulisan ini ditulis berada di Singapura untuk meneruskan S3. Ibam pernah menjadi operator yang menjalankan gateway ke Internet dari UI yang merupakan bagian dari jaringan universitas di Indonesia UNINET. Protokol UUCP yang lebih sederhana daripada TCP/IP digunakan terutama digunakan untuk mentransfer e-mail & newsgroup. RMS Ibrahim juga merupakan pemegang pertama Country Code Top Level Domain (ccTLD) yang dikemudian hari dikenal sebagai IDNIC (http://www.idnic.net.id).
Muhammad Ihsan adalah staff peneliti di LAPAN Ranca Bungur tidak jauh dari Bogor yang di awal tahun 1990-an di dukung oleh kepala-nya Bu Adrianti dalam kerjasama dengan DLR (NASA-nya Jerman) mencoba mengembangkan jaringan komputer menggunakan teknologi packet radio pada band 70cm & 2m. Jaringan tersebut dikenal sebagai JASIPAKTA dengan dukungan DLR Jerman. Protokol TCP/IP di operasikan di atas protokol AX.25 pada infrastruktur packet radio. Pak Ihsan ini yang mengoperasikan relay penghubung antara ITB di Bandung dengan gateway Internet yang ada di BPPT.
Pak Firman Siregar merupakan salah seorang motor di BPPT yang mengoperasikan gateway packet radio bekerja pada band 70cm. PC 386 sederhana menjalankan program NOS di atas sistem operasi DOS digunakan sebagai gateway packet radio TCP/IP. IPTEKNET masih berada di tahapan sangat awal perkembangannya saluran komunikasi ke internet masih menggunakan X.25 melalui jaringan SKDP terkait pada gateway di DLR Jerman.
Putu sebuah nama yang melekat dengan perkembangan PUSDATA DEPRIN waktu masa kepemimpinan Pak Tungki Ariwibowo menjalankan BBS pusdata.dprin.go.id yang hingga saat ini masih beroperasi. Di masa awal perkembangannya BBS Pak Putu sangat berjasa dalam membangun pengguna e-mail khususnya di jakarta Pak Putu sangat beruntung mempunyai menteri Pak Tungki yang "maniac" IT dan yang mengesankan dari Pak Tungki beliau akan menjawab e-mail sendiri. Barangkali Pak Tungki adalah menteri pertama di Indonesia yang menjawab e-mail sendiri. Saya sempat terkagum-kagum memperoleh jawaban e-mail dari seorang menteri Pak Tungki yang waktu itu sedang berada di Amerika Selatan dalam kunjungan kerjanya. Bukan main, seorang menteri tapi tetap menyempatkan diri untuk membalas e-mail.
Mas Suryono Adisoemarta N5SNN di akhir 1992 kembali ke Indonesia, kesempatan tersebut tidak dilewatkan oleh anggota Amatir Radio Club ARC ITB seperti Basuki Suhardiman (sekarang di AI3 ITB), Aulia K. Arief (sekarang di WAHID), Arman Hazairin (sekarang di Telkomsel) di dukung oleh Adi Indrayanto (sekarang S3 di Inggris) untuk mencoba mengembangkan gateway packet radio di ITB. Berawal semangat & bermodalkan PC 286 bekas barangkali ITB merupakan lembaga yang paling miskin yang nekad untuk berkiprah di jaringan PaguyubanNet. Rekan lainnya seperti UI, BPPT, LAPAN, PUSDATA DEPRIN merupakan lembaga yang lebih dahulu terkait ke jaringan di tahun 1990-an mereka mempunyai fasilitas yang jauh lebih baik daripada ITB. Di ITB modem packet radio berupa Terminal Node Controller TNC merupakan peralatan pinjaman dari Muhammad Ihsan dari LAPAN.
Berawal dari teknologi packet radio 1200bps di atas, ITB kemudian berkembang di tahun 1995-an memperoleh sambungan leased line 14.4Kbps ke RISTI Telkom sebagai bagian dari IPTEKNET akses Internet tetap diberikan secara cuma-cuma kepada rekan-rekan yang lain. September 1996 merupakan tahun peralihan bagi ITB, karena keterkaitan ITB dengan jaringan penelitian Asia Internet Interconnection Initiatives (AI3) sehingga memperoleh bandwidth 1.5Mbps (sekarang 2Mbps) ke Jepang yang terus ditambah dengan sambungan ke TelkomNet & IIX sebesar 2Mbps. ITB akhirnya menjadi salah satu bagian terpenting dalam jaringan pendidikan di Indonesia yang menamakan dirinya AI3 Indonesia yang mengkaitkan 25+ lembaga pendidikan di Indonesia.
Jaringan pendidikan ini bukan hanya monopoly ITB saja, jaringan pendidikan lain yang lebih besar lagi adalah jaringan SMK yang dibawahi DIKMENJUR (dikmenjur@egroups.com) yang saat ini telah mengkaitkan 270+ SMK di seluruh Indonesia. Saat ini ada 4000 SMK yang mempunyai potensi yang sangat besar jika berhasil dikaitkan. Belum lagi kalau bisa mengkaitkan 10.000 SMU ke Internet pasti tidak kalah serunya dengan mengkaitkan 1300 PTN / PTS (saat ini baru ~200 PTS/PTN yang terkait) di seluruh Indonesia ke Internet.
Di tahun 1989-1990-an, teman-teman mahasiswa Indonesia di luar negeri mulai membangun tempat diskusi di Internet, salah satu tempat diskusi Indonesia di Internet yang pertama berada di indonesians@janus.berkeley.edu. Berawal dari mailing list pertama di Janus diskusi-diskusi antar teman-teman mahasiswa Indonesia diluar negeri pemikiran alternatif berserta kesadaran masyarakat ditumbuhkan. Pola mailing list ini ternyata terus berkembang dari sebuah mailing list legendaris di janus, akhirnya menjadi sangat banyak sekali mailing list Indonesia terutama di host oleh server di ITB & egroups.com. Mailing list ini akhirnya menjadi salah satu sarana yang sangat strategis dalam pembangunan komunitas di Internet Indonesia.
Di tahun 1994-an mulai beroperasi IndoNet yang dipimpin oleh Sanjaya. IndoNet merupakan ISP komersial pertama Indonesia pada waktu itu pihak POSTEL belum mengetahui tentang celah-celah bisnis Internet & masih sedikit sekali pengguna Internet di Indonesia. Seingat saya sambungan awal ke Internet dilakukan menggunakan dial-up oleh IndoNet, sebuah langkah yang cukup nekad barangkali. Lokasi IndoNet masih di daerah Rawamangun di kompleks dosen UI kebetulan ayah Sanjaya adalah dosen UI. Seperti kita ketahui bahwa perkembangan usaha bisnis Internet di Indonesia semakin marak dengan 60-an ISP yang memperoleh lisensi dari pemerintah. Asosiasi ISP (APJII) terbentuk di motori oleh Sanjaya cs di tahun 1998-an. Effisiensi sambungan antar ISP terus dilakukan dengan membangun beberapa Internet Exchange (IX) di Indosat, Telkom, APJII (IIX) & beberapa ISP lainnya yang saling exchange. APJII bahkan mulai melakukan manouver untuk memperbesar pangsa pasar Internet di Indonesia dengan melakukan program SMU2000 yang kemudian berkembang menjadi Sekolah2000.
Perkembangan terakhir yang perlu diperhitungkan adalah trend ke arah e-commerce dan warung internet yang satu & lainnya saling menunjang membuahkan masyarakat Indonesia yang lebih solid di dunia informasi. Rekan-rekan e-commerce membangun komunitasnya di beberapa mailing list utama seperti warta-e-commerce@egroups.com, mastel-e-commerce@egroups.com, e-commerce@itb.ac.id & i2bc@egroups.com. Sedangkan rekan-rekan penyelenggara WARNET banyak berkumpul di asosiasi-warnet@egroups.com, pada tanggal 25 Mei 2000 merupakan hari bersejarah bagi rekan-rekan WARNET - karena telah lahir asosiasi warnet yang ada secara fisik dalam pertemuan di kantor DIKMENJUR. Ketua Asosiasi Warnet adalah rekan Rudy Rusdiah, Bendahara rekan Adlinsyah dan Sekretaris Abdullah Koro. WARNET di Indonesia akan disediakan domain war.net.id.
Demikian kilasan sejarah Internet di Indonesia, kami sadar bahwa perjuangan kami masih panjang. Masih banyak hal yang perlu diperjuangkan terus agar dapat menggerakan bangsa Indonesia menuju knowledge based society.
Ilmu Teknologi Pendidikan
Teknologi dan Pendidikan Sedang Mengalami Dikotomi# (30 Oktober, 2007 - DiUpdate 28-6-2008)
Apakah E-Pendidikan Adalah Mimpi?
Internet Masuk Sekolah - Mengapa?Internet adalah "Alat Bantu", bukan "Solusi Pendidikan" (di tingkat Sekolah). Internet (tanpa bahasa Inggris) sebagai sumber informasi yang sangat terbatas. Bahan pelajaran (dalam bahasa Indonesia) juga sangat sedikit. Kelihatannya kurikulum kita juga tidak berbasis-penelitian, jadi untuk apa Internet di sekolah? Internet di sekolah jelas bukan prioritas kan? (Informasi Lanjut)Pendidikan Yang Bermutu adalah: Pendidikan Berbasis-Guru yang Mampu dan Sejahtera, di Sekolah yang Bermutu, dengan Kurikulum yang Sesuai dengan Kebutuhan Siswa-Siswi dan "Well Balanced" (seimbang, dengan banyak macam keterampilan termasuk teknologi), yang Diimplementasikan secara PAKEM (Pembelajaran Kontekstual). ("Mampu" termasuk Kreatif)
Kami di Pendidikan.Network sudah terus mendukung perkembangan teknologi di DepDikNas maupun di sekolah sejak tahun 1998. Tetapi kami juga wajib untuk memonitor perkembangan teknologi dari sisi keuntungan dan kemajuan mutu pendidikan secara rialistik dan holistik, kalau tidak, kita dapat lebih mundur dan hanya menghabiskan banyak dana pendidikan yang sedang kurang. Apakah pembelajaran teknologi di sekolah adalah penting? Tanggung jawab sekolah yang besar dalam memasuki era globalisasi adalah mempersiapkan siswa-siswi untuk menghadapi tantangan-tantangan yang sangat cepat perubahannya. Salah satu dari tantangan yang dihadapi oleh para siswa adalah menjadi pekerja yang bermutu. Kemampuan berbicara dalam bahasa asing, kemahiran komputer dan Internet, dan kemampuan menggunakan program-program seperti Microsoft merupakan tiga kriteria utama yang pada umumnya diajukan sebagai syarat untuk memasuki lapangan kerja di Indonesia (dan di seluruh dunia).
Mengingat hanya sekitar 30% dari lulusan SMA di seluruh wilayah Nusantara ini yang melanjutkan ke tingkat perguruan tinggi formal, dan dengan adanya komputer yang telah merambah di segala bidang kehidupan manusia, maka dibutuhkan suatu tanggung jawab yang besar terhadap system pendidikan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa dan kemahiran komputer bagi para siswa kita. Pembelajaran teknologi adalah sangat penting dan semua sekolah adalah wajib untuk mengajar Teknologi Informasi Komunikasi (TIK).
Walapun kita sangat mendukung pembelajaran teknologi, kita juga harus menjaga bahwa "teknologi pembelajaran", yang hanya sebagai beberapa medium untuk menyampaikan pendidikan dan belum tentu meningkatkan mutu pendidikannya, tidak menjadi fokusnya mamajemen pendidikan sampai merugikan aspek-aspek lain yang betul dapat meningkatkan mutu pendidikan. Misalnya, JarDikNas. Salah satu tujuan utama adalah meningkatkan mutu pendidikan lewat informasi yang lebih lengkap. Tetapi kelihatannya informasi mengenai masalah-masalah di lapangan sudah banyak sekali. Termasuk informasi mengenai keadaan di banyak sekolah yang ambruk dan mengancam keamanan anak-anak kita. Kapan masalah-masalah begini akan diatasi? Misalnya, Meningkatkan Peran dan Mutu Perpustakaan Sekolah. Apakah hal utama adalah "Library Management System"?
Senayan Open Source Library Management System Apakah Teknologi Adalah Solusi Perpustakaan?
Implementasi teknologi di bidang pendidikan perlu diintegrasikan ke dalam perencanaan (master plan) terhadap semua aspek pengembangan pendidikan secara seimbang (bukan secara proyek). Sering pengumuman yang muncul di media mengenai teknologi di arena pendidikan kelihatannya kurang menilaikan penelitian dan pengalaman di dunia pendidikan. Kasus-kasus teknologi dan pendidikan tertentu kelihatannya juga diankat sebagai solusi umum. Padahal ada hal-hal yang perlu diatasi dulu misalnya: "Sekolah tak Bisa Tangkal Situs Porno" yang akan perlu SDM di tingkat sekolah yang sangat bermutu dan rajin. Memang kita wajib untuk mencari solusi yang kreatif, tetapi kita juga wajib untuk belajar dari pengalaman-pengalaman yang ada di dunia supaya kita tidak hanya mengulangkan kegagalan negara lain. Kelihatannya pertanyaan-pertanyaan dasar yang penting sering tidak ditanyakan, seperti, mengapa di negara-negara maju mereka tidak melaksanakan ini? Mengapa di negara mana saja dasarnya pendidikan masih berbasis-kelas konvensional, bukan berbasis-TI? Mungkin negara lain belum memikirkan? Percayalah, dunia pendidikan termasuk bidang yang paling rajin untuk mencari kesempatan untuk menggunakan teknologi. Sering isu pendidikan dan 'teknologi baru' sudah dibahas dan diuji coba sebelum teknologinya muncul di pasar. Yang perlu diperhatikan adalah inovasi-inovasi baru (dan sering yang tidak baru) akan ditunjuk dan didorongkan oleh perusahaan-perusahaan teknologi yang sangat beruntung kalau teknologinya didadopsi di dunia pendidikan. 'Tetapi kita sebagai pendidik harus selalu melihat semua aplikasi teknologi dari kenyataan dan keuntungan terhadap mutu pendidikan' (bukan dari retorika).
Apakah, karena makin banyak siswa-siswi sekarang main Internet di warnet daripada menggunakan waktunya di rumah untuk mengulang pelajaran dari sekolah dan mengerjakan PRnya ini sebagai salah satu faktor penyebab hasil Ujian Nasional (UN) kelihatannya menjadi lebih buruk? Kita perlu tahu!
Kalau kita melihat beberapa macam teknologi pendidikan, misalnya; Whiteboard-Elektronik, OHP, Video, Televisi, e-Learning, Internet, dll, selalu mutu akhirnya 100% tergantung mutu content dan proses pengajaran. Teknologi sendiri hanya sebagai medium. Kalau berhasil atau gagal tergantung content dan proses pengajaran, bukan teknologinya. Dengan teknologi seperti TV-Edukasi misalnya, siaran TV masuk sekolah kayaknya gagal karena kurang meneliti pengalaman-pengalaman di negara lain, dan juga tidak melihat dari keadaan dan keperluan guru di sekolah. Hasil sekolah 100% tergantung mutu pendidikannya, bukan teknologi yang mereka menggunakan untuk menyampaikan pendidikannya. Kebetulan kemarin di seminar "Cutting Cost with ICT Convergence" salah satu wilayah yang disebut yang belum memasang teknologi wireless adalah daerah Pacitan. Pacitan adalah salah satu daerah di mana kami sudah menyaksikan pelaksanan pendidikan yang sangat bermutu. Guru-gurunya bersemangat melaksanakan PAKEM dan sangat mengembankan kreativitas siswa-siswinya. Sekolah-sekolah yang belum terlatih juga belajar PAKEM secara mandiri - salut! Mohon ingat ...... Pendidikan Berbasis-Guru yang Mampu dan Sejahtera, di Sekolah yang Bermutu, dengan Kurikulum yang Sesuai dengan Kebutuhan Siswa-Siswi dan "Well Balanced" (seimbang, dengan banyak macam keterampilan termasuk teknologi), yang Diimplementasikan secara PAKEM adalah solusi utama untuk menyiapkan anak-anak kita untuk menghadapi tantangan-tantangan masa depan.
Pembelajaran Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) adalah hal yang sangat penting di semua sekolah. Tetapi akses ke Internet untuk siswa-siswi di sekolah di luar pelatihan khusus sebenarnya tidak begitu penting, kecuali untuk melanjutkan pelajaran yang dibimbing oleh guru. Pasti banyak siswa-siswi tidak akan setuju karena main Internet memang "fun", tetapi kami belum melihat bukti bahwa anak-anak sekolah yang sering menggunakan Internet secara bebas lebih berhasil di UN daripada yang menggunakan waktunya untuk mengulang pelajaran sekolahnya dan rajin mengerjakan PRnya. Mungkin sebaliknya? Suka atau tidak suka, siswa-siswi kita akan dinilai dari hasil mereka di UN atau Ujian Sekolah (bukan dari kemampuan mereka "Chatting di Internet"). Selain masalah ujian, kapan siswa-siswi akan punya waktu di sekolah dengan kurikulum yang sangat padat untuk menggunakan Internet kecuali di kelas TI. Apakah kita ingin mengganti guru dengan pelajaran dari Internet (machine)? Sudah sering dicoba di negara lain! Sekarang kita sedang mencoba "Sistem Pembelajaran Berbasis-TI". Kami pertama kali kenal Pembelajaran Berbasis-TI pada tahun 1992 di luar negeri, memang bukan sesuatu yang baru dan masih hanya digunakan di kursus/kelas tertentu saja. Tetapi kalau kreativitas sebagian dari siswa-siswi kita dapat ditingkatkan oleh 'membuat program-program' seperti ini yaitu memang baik. Kita lihat bahwa pemerintah akan siapkan Rp 1 Triliun untuk "melengkapi laboratorium komputer" di sekolah-sekolah SMP/SMA/SMK untuk e-learning. Tetapi kalau sekolahnya hanya memiliki satu laboratorium komputer itu pasti akan dipakai terus untuk mengajar TI, bukan?. Apakah semua sekolah akan menerima cukup komputer untuk melengkapi beberapa lab/kelas? Apakah "Pembelajaran Berbasis-TI" atau "E-Learning" betul adalah solusi rialistik untuk seluruh Indonesia? Atau, Pembelajaran Berbasis-TI hanya akan membesarkan jaraknya lagi antara sekolah yang punya dan yang tidak? Memang semua sekolah wajib untuk mempunyai lab komputer untuk mengajar TI (ini saja belum), tetapi kita akan perlu beberapa kelas lagi (di semua sekolah) yang dilengkapi dengan komputer supaya mata pelajaran yang lain juga dapat menggunakan komputer. Kalau kita melihat dari harga teknologinya (yang setiap beberapa tahun perlu diupdate), kurikulum yang sering dirubah, ongkos pemiliharaan teknologinya, dll, dengan anggaran yang sekarang tidak cukup untuk mengelola pendidikan 'Berbasis-Guru' dengan baik atau meningkatkan kesejahteraan guru dan staf TU sampai jadi manusiawi, bagaimana mungkin? (Saran 12/11/2007) Mengapa kita selalu mencari solusi baru (yang sering tidak baru seperti TV-Edukasi atau Pembelajaran Berbasis-TI) untuk meningkatkan pendidikan di Indonesia? Apakah karena alokasi anggaran memang tidak cukup untuk memperbaiki pendidikannya dan kita hanya mencari kesibukan? Atau karena paradigma lama kita (proyek) belum merubah sejak awal? Mengapa teknologi sering dianggap sebagai solusinya? Misalnya, sekarang DepDikNas sedang membangun jaringan JarDikNas. Salah satu tujuan utama adalah meningkatkan mutu pendidikan lewat informasi yang lebih lengkap. Tetapi kelihatannya informasi mengenai masalah-masalah di lapangan sudah banyak sekali. Termasuk informasi mengenai keadaan di banyak sekolah yang ambruk dan mengancam keamanan anak-anak kita. Kapan masalah-masalah begini akan diatasi? Apakah tidak lebih baik kalau kita menggunakan 100% dari anggaran Rp.42 triliun itu untuk mengatasi hal-hal yang sudah jelas dapat meningkatkan mutu pendidikan di tingkat sekolah, sesuai pemintaan dari lapangan dan perencanaan terhadap semua aspek kebutuhan sekolah? Maksud kami, kalau atap sekolahnya bocor dan mau ambruk, tetapi yang diberikan adalah sambungan ke Internat, apakah ini betul bermanfaat? Kita perlu mulai dengan sekolah yang paling ketinggalan supaya mengarah ke keadilan akses pendidikan yang bermutu (dan melihat dari segala aspek). Tetapi karena JarDikNas sudah berjalan sebaiknya kita "Berfikir Optimis" dan mudah-mudahan banyak sekolah akan diberikan komputer, kalau betul ini memang positif. Untuk berita baru (5-1-2008) membaca ini "Pemindahan Jardiknas" (termasuk saran-sarannya). Memang itu sulit untuk "berpikir optimis"! "Kata Menkominfo, akses-akses informasi pada jaringan ICT tersebut, akan ditekankan pada unsur e-education (pendidikan), e-health (kesehatan), dan e-economy (ekonomi) yang dapat mengurangi gap di bidang ICT antara daerah pedesaan dan daerah perkotaan". Tetapi ini akan sangat tergantung peran dan mutunya SDM di pemerintah, bukan?. Kalau kita melihat teknologi yang sudah ditangani oleh pemerintah, misalnya website-website (12-1-2008):
http://pustekkom.depdiknas.go.id Setelah beberapa bulan muncul lagi - Bermanfaat?E-Learning Yang Bermutu - Di Mana?http://www.pustekkom.go.id [Mati]Ini situs "Pusat Teknologi Komunikasi dan Informasi Pendidikan" kita.Sejak Bulan Mei 2007 situs ini kelihatannya tidak diurus.
http://www.tvedukasi.org [Coba Links - Jadwal TV?] Kalau coba situs lama: http://www.e-dukasi.net/tve/ ??? 14 April 2007, "Rp300 Miliar untuk Program TV Edukasi" Mengapa begini? Ke mana uangnya?Sejak Bulan Mei 2007 situs ini kelihatannya kurang bermanfaat.Data untuk Transparansi dan Akuntabilitas???
http://www.perpustakaan.diknas.go.id/ [Hidup-Mati-Hidup Terus, Cek Isinya!]Ayo, kita meningkatkan minat baca! Di mana ya?
Apakah JarDikNas Pindah Lagi?http://jardiknas.depdiknas.go.id/ [Data? / Informatif? / Transparansi???]Situs-situs yang lama juga kelihatannya tidak di-update-update (Datanya?)http://jardiknas.diknas.go.idhttp://jardiknas.org, http://jardiknas.netRef: "Dana Pendidikan 11,2% (Rp42 triliun) Mampu Bangun Jardiknas""Dana Aktual" & Data untuk Transparansi dan Akuntabilitas belum kelihatan! Buku Sekolah Elektronik (BSE)- Yang jelas percuma membuat Ebook Sekolah di Web! - - - "Transparansi dan Pembenahan Moral" - - - Sudah waktunya!
Coba situs pemerintah yang lain di: http://Re-SearchEngines.Com.Apakah website-website DepDikNas adalah informatif dan mendidik? Yang paling penting dalam singkatan "TIK" (Teknologi Informasi Komunikasi) adalah bagian "I" Informasi, dan ini yang sangat kurang dan perlu dibangun dulu, baru memikirkan teknologi.
E-Learning (lewat Internet) juga sebagai salah satu alat bantu pendidikan untuk situasi yang cocok dan kondusif. E-Learning adalah strategi yang biasanya lebih cocok untuk pelajar yang lebih matang seperti mahasiswa, yang jauh dari kampusnya atau yang dewasa yang harus menyesuaikan waktu belajar dengan jadwal pekerjaan atau tugas Ibu Rumah Tangga.Memang pembelajaran teknologi adalah penting, tetapi teknologi pelajaran hanya sebagai beberapa macam alat bantu bukan solusi terhadap segala masalah pendidikan. Kami melihat bahwa "TTG Solusi Pengentasan Kemiskinan di Pedesaan" muncul di berita lagi. Konsep ini sudah menarik sejak tahun 2005 (Telecenter CyberDesa), dan kami juga ikut konferensi Desember 2005. Tetapi pada waktu itu kami mulai sangat ragu-ragu oleh karena untuk selama dua hari itu yang dibahas saja adalah teknologi. Teknologinya bukan masalah, masalahnya adalah SDM di telecenter-telecenter yang pandai dan berdedikasi untuk membantu rakyatnya - ini yang perlu dibahas. Banyak orang di Indonesia sudah pandai mengimplementasikan teknologi, tetapi teknologi tanpa SDM yang 'Terlatih Khusus' dan Sangat Bermutu dan 'Mampu Mengurus Kebutuhan-Kebutuhan Rakyat di Pedesaan' bagaimana? Kita dapat berhasil? Bagaimana hasilnya sampai sekarang? Ayo Pak MenDikNas, Mari kita berjuang bersama untuk meningkatkan semua aspek pendidikan supaya menjaminkan pendidikan yang bermutu untuk semua... Anggaran Pendidikan 20% - Bersih Tanpa Korupsi dan MarkUp ... Mohon perhatian isu-isu pendidikan di lapangan! "Bambang Sudibyo menambahkan, adanya fasilitas ICT akan mampu memperbaiki akses pendidikan yang bermutu, yang selama ini sulit diakses oleh mereka yang bermukim di kawasan terpencil." (ANTARA News).
Apakah E-Pendidikan Adalah Mimpi?
Internet Masuk Sekolah - Mengapa?Internet adalah "Alat Bantu", bukan "Solusi Pendidikan" (di tingkat Sekolah). Internet (tanpa bahasa Inggris) sebagai sumber informasi yang sangat terbatas. Bahan pelajaran (dalam bahasa Indonesia) juga sangat sedikit. Kelihatannya kurikulum kita juga tidak berbasis-penelitian, jadi untuk apa Internet di sekolah? Internet di sekolah jelas bukan prioritas kan? (Informasi Lanjut)Pendidikan Yang Bermutu adalah: Pendidikan Berbasis-Guru yang Mampu dan Sejahtera, di Sekolah yang Bermutu, dengan Kurikulum yang Sesuai dengan Kebutuhan Siswa-Siswi dan "Well Balanced" (seimbang, dengan banyak macam keterampilan termasuk teknologi), yang Diimplementasikan secara PAKEM (Pembelajaran Kontekstual). ("Mampu" termasuk Kreatif)
Kami di Pendidikan.Network sudah terus mendukung perkembangan teknologi di DepDikNas maupun di sekolah sejak tahun 1998. Tetapi kami juga wajib untuk memonitor perkembangan teknologi dari sisi keuntungan dan kemajuan mutu pendidikan secara rialistik dan holistik, kalau tidak, kita dapat lebih mundur dan hanya menghabiskan banyak dana pendidikan yang sedang kurang. Apakah pembelajaran teknologi di sekolah adalah penting? Tanggung jawab sekolah yang besar dalam memasuki era globalisasi adalah mempersiapkan siswa-siswi untuk menghadapi tantangan-tantangan yang sangat cepat perubahannya. Salah satu dari tantangan yang dihadapi oleh para siswa adalah menjadi pekerja yang bermutu. Kemampuan berbicara dalam bahasa asing, kemahiran komputer dan Internet, dan kemampuan menggunakan program-program seperti Microsoft merupakan tiga kriteria utama yang pada umumnya diajukan sebagai syarat untuk memasuki lapangan kerja di Indonesia (dan di seluruh dunia).
Mengingat hanya sekitar 30% dari lulusan SMA di seluruh wilayah Nusantara ini yang melanjutkan ke tingkat perguruan tinggi formal, dan dengan adanya komputer yang telah merambah di segala bidang kehidupan manusia, maka dibutuhkan suatu tanggung jawab yang besar terhadap system pendidikan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa dan kemahiran komputer bagi para siswa kita. Pembelajaran teknologi adalah sangat penting dan semua sekolah adalah wajib untuk mengajar Teknologi Informasi Komunikasi (TIK).
Walapun kita sangat mendukung pembelajaran teknologi, kita juga harus menjaga bahwa "teknologi pembelajaran", yang hanya sebagai beberapa medium untuk menyampaikan pendidikan dan belum tentu meningkatkan mutu pendidikannya, tidak menjadi fokusnya mamajemen pendidikan sampai merugikan aspek-aspek lain yang betul dapat meningkatkan mutu pendidikan. Misalnya, JarDikNas. Salah satu tujuan utama adalah meningkatkan mutu pendidikan lewat informasi yang lebih lengkap. Tetapi kelihatannya informasi mengenai masalah-masalah di lapangan sudah banyak sekali. Termasuk informasi mengenai keadaan di banyak sekolah yang ambruk dan mengancam keamanan anak-anak kita. Kapan masalah-masalah begini akan diatasi? Misalnya, Meningkatkan Peran dan Mutu Perpustakaan Sekolah. Apakah hal utama adalah "Library Management System"?
Senayan Open Source Library Management System Apakah Teknologi Adalah Solusi Perpustakaan?
Implementasi teknologi di bidang pendidikan perlu diintegrasikan ke dalam perencanaan (master plan) terhadap semua aspek pengembangan pendidikan secara seimbang (bukan secara proyek). Sering pengumuman yang muncul di media mengenai teknologi di arena pendidikan kelihatannya kurang menilaikan penelitian dan pengalaman di dunia pendidikan. Kasus-kasus teknologi dan pendidikan tertentu kelihatannya juga diankat sebagai solusi umum. Padahal ada hal-hal yang perlu diatasi dulu misalnya: "Sekolah tak Bisa Tangkal Situs Porno" yang akan perlu SDM di tingkat sekolah yang sangat bermutu dan rajin. Memang kita wajib untuk mencari solusi yang kreatif, tetapi kita juga wajib untuk belajar dari pengalaman-pengalaman yang ada di dunia supaya kita tidak hanya mengulangkan kegagalan negara lain. Kelihatannya pertanyaan-pertanyaan dasar yang penting sering tidak ditanyakan, seperti, mengapa di negara-negara maju mereka tidak melaksanakan ini? Mengapa di negara mana saja dasarnya pendidikan masih berbasis-kelas konvensional, bukan berbasis-TI? Mungkin negara lain belum memikirkan? Percayalah, dunia pendidikan termasuk bidang yang paling rajin untuk mencari kesempatan untuk menggunakan teknologi. Sering isu pendidikan dan 'teknologi baru' sudah dibahas dan diuji coba sebelum teknologinya muncul di pasar. Yang perlu diperhatikan adalah inovasi-inovasi baru (dan sering yang tidak baru) akan ditunjuk dan didorongkan oleh perusahaan-perusahaan teknologi yang sangat beruntung kalau teknologinya didadopsi di dunia pendidikan. 'Tetapi kita sebagai pendidik harus selalu melihat semua aplikasi teknologi dari kenyataan dan keuntungan terhadap mutu pendidikan' (bukan dari retorika).
Apakah, karena makin banyak siswa-siswi sekarang main Internet di warnet daripada menggunakan waktunya di rumah untuk mengulang pelajaran dari sekolah dan mengerjakan PRnya ini sebagai salah satu faktor penyebab hasil Ujian Nasional (UN) kelihatannya menjadi lebih buruk? Kita perlu tahu!
Kalau kita melihat beberapa macam teknologi pendidikan, misalnya; Whiteboard-Elektronik, OHP, Video, Televisi, e-Learning, Internet, dll, selalu mutu akhirnya 100% tergantung mutu content dan proses pengajaran. Teknologi sendiri hanya sebagai medium. Kalau berhasil atau gagal tergantung content dan proses pengajaran, bukan teknologinya. Dengan teknologi seperti TV-Edukasi misalnya, siaran TV masuk sekolah kayaknya gagal karena kurang meneliti pengalaman-pengalaman di negara lain, dan juga tidak melihat dari keadaan dan keperluan guru di sekolah. Hasil sekolah 100% tergantung mutu pendidikannya, bukan teknologi yang mereka menggunakan untuk menyampaikan pendidikannya. Kebetulan kemarin di seminar "Cutting Cost with ICT Convergence" salah satu wilayah yang disebut yang belum memasang teknologi wireless adalah daerah Pacitan. Pacitan adalah salah satu daerah di mana kami sudah menyaksikan pelaksanan pendidikan yang sangat bermutu. Guru-gurunya bersemangat melaksanakan PAKEM dan sangat mengembankan kreativitas siswa-siswinya. Sekolah-sekolah yang belum terlatih juga belajar PAKEM secara mandiri - salut! Mohon ingat ...... Pendidikan Berbasis-Guru yang Mampu dan Sejahtera, di Sekolah yang Bermutu, dengan Kurikulum yang Sesuai dengan Kebutuhan Siswa-Siswi dan "Well Balanced" (seimbang, dengan banyak macam keterampilan termasuk teknologi), yang Diimplementasikan secara PAKEM adalah solusi utama untuk menyiapkan anak-anak kita untuk menghadapi tantangan-tantangan masa depan.
Pembelajaran Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) adalah hal yang sangat penting di semua sekolah. Tetapi akses ke Internet untuk siswa-siswi di sekolah di luar pelatihan khusus sebenarnya tidak begitu penting, kecuali untuk melanjutkan pelajaran yang dibimbing oleh guru. Pasti banyak siswa-siswi tidak akan setuju karena main Internet memang "fun", tetapi kami belum melihat bukti bahwa anak-anak sekolah yang sering menggunakan Internet secara bebas lebih berhasil di UN daripada yang menggunakan waktunya untuk mengulang pelajaran sekolahnya dan rajin mengerjakan PRnya. Mungkin sebaliknya? Suka atau tidak suka, siswa-siswi kita akan dinilai dari hasil mereka di UN atau Ujian Sekolah (bukan dari kemampuan mereka "Chatting di Internet"). Selain masalah ujian, kapan siswa-siswi akan punya waktu di sekolah dengan kurikulum yang sangat padat untuk menggunakan Internet kecuali di kelas TI. Apakah kita ingin mengganti guru dengan pelajaran dari Internet (machine)? Sudah sering dicoba di negara lain! Sekarang kita sedang mencoba "Sistem Pembelajaran Berbasis-TI". Kami pertama kali kenal Pembelajaran Berbasis-TI pada tahun 1992 di luar negeri, memang bukan sesuatu yang baru dan masih hanya digunakan di kursus/kelas tertentu saja. Tetapi kalau kreativitas sebagian dari siswa-siswi kita dapat ditingkatkan oleh 'membuat program-program' seperti ini yaitu memang baik. Kita lihat bahwa pemerintah akan siapkan Rp 1 Triliun untuk "melengkapi laboratorium komputer" di sekolah-sekolah SMP/SMA/SMK untuk e-learning. Tetapi kalau sekolahnya hanya memiliki satu laboratorium komputer itu pasti akan dipakai terus untuk mengajar TI, bukan?. Apakah semua sekolah akan menerima cukup komputer untuk melengkapi beberapa lab/kelas? Apakah "Pembelajaran Berbasis-TI" atau "E-Learning" betul adalah solusi rialistik untuk seluruh Indonesia? Atau, Pembelajaran Berbasis-TI hanya akan membesarkan jaraknya lagi antara sekolah yang punya dan yang tidak? Memang semua sekolah wajib untuk mempunyai lab komputer untuk mengajar TI (ini saja belum), tetapi kita akan perlu beberapa kelas lagi (di semua sekolah) yang dilengkapi dengan komputer supaya mata pelajaran yang lain juga dapat menggunakan komputer. Kalau kita melihat dari harga teknologinya (yang setiap beberapa tahun perlu diupdate), kurikulum yang sering dirubah, ongkos pemiliharaan teknologinya, dll, dengan anggaran yang sekarang tidak cukup untuk mengelola pendidikan 'Berbasis-Guru' dengan baik atau meningkatkan kesejahteraan guru dan staf TU sampai jadi manusiawi, bagaimana mungkin? (Saran 12/11/2007) Mengapa kita selalu mencari solusi baru (yang sering tidak baru seperti TV-Edukasi atau Pembelajaran Berbasis-TI) untuk meningkatkan pendidikan di Indonesia? Apakah karena alokasi anggaran memang tidak cukup untuk memperbaiki pendidikannya dan kita hanya mencari kesibukan? Atau karena paradigma lama kita (proyek) belum merubah sejak awal? Mengapa teknologi sering dianggap sebagai solusinya? Misalnya, sekarang DepDikNas sedang membangun jaringan JarDikNas. Salah satu tujuan utama adalah meningkatkan mutu pendidikan lewat informasi yang lebih lengkap. Tetapi kelihatannya informasi mengenai masalah-masalah di lapangan sudah banyak sekali. Termasuk informasi mengenai keadaan di banyak sekolah yang ambruk dan mengancam keamanan anak-anak kita. Kapan masalah-masalah begini akan diatasi? Apakah tidak lebih baik kalau kita menggunakan 100% dari anggaran Rp.42 triliun itu untuk mengatasi hal-hal yang sudah jelas dapat meningkatkan mutu pendidikan di tingkat sekolah, sesuai pemintaan dari lapangan dan perencanaan terhadap semua aspek kebutuhan sekolah? Maksud kami, kalau atap sekolahnya bocor dan mau ambruk, tetapi yang diberikan adalah sambungan ke Internat, apakah ini betul bermanfaat? Kita perlu mulai dengan sekolah yang paling ketinggalan supaya mengarah ke keadilan akses pendidikan yang bermutu (dan melihat dari segala aspek). Tetapi karena JarDikNas sudah berjalan sebaiknya kita "Berfikir Optimis" dan mudah-mudahan banyak sekolah akan diberikan komputer, kalau betul ini memang positif. Untuk berita baru (5-1-2008) membaca ini "Pemindahan Jardiknas" (termasuk saran-sarannya). Memang itu sulit untuk "berpikir optimis"! "Kata Menkominfo, akses-akses informasi pada jaringan ICT tersebut, akan ditekankan pada unsur e-education (pendidikan), e-health (kesehatan), dan e-economy (ekonomi) yang dapat mengurangi gap di bidang ICT antara daerah pedesaan dan daerah perkotaan". Tetapi ini akan sangat tergantung peran dan mutunya SDM di pemerintah, bukan?. Kalau kita melihat teknologi yang sudah ditangani oleh pemerintah, misalnya website-website (12-1-2008):
http://pustekkom.depdiknas.go.id Setelah beberapa bulan muncul lagi - Bermanfaat?E-Learning Yang Bermutu - Di Mana?http://www.pustekkom.go.id [Mati]Ini situs "Pusat Teknologi Komunikasi dan Informasi Pendidikan" kita.Sejak Bulan Mei 2007 situs ini kelihatannya tidak diurus.
http://www.tvedukasi.org [Coba Links - Jadwal TV?] Kalau coba situs lama: http://www.e-dukasi.net/tve/ ??? 14 April 2007, "Rp300 Miliar untuk Program TV Edukasi" Mengapa begini? Ke mana uangnya?Sejak Bulan Mei 2007 situs ini kelihatannya kurang bermanfaat.Data untuk Transparansi dan Akuntabilitas???
http://www.perpustakaan.diknas.go.id/ [Hidup-Mati-Hidup Terus, Cek Isinya!]Ayo, kita meningkatkan minat baca! Di mana ya?
Apakah JarDikNas Pindah Lagi?http://jardiknas.depdiknas.go.id/ [Data? / Informatif? / Transparansi???]Situs-situs yang lama juga kelihatannya tidak di-update-update (Datanya?)http://jardiknas.diknas.go.idhttp://jardiknas.org, http://jardiknas.netRef: "Dana Pendidikan 11,2% (Rp42 triliun) Mampu Bangun Jardiknas""Dana Aktual" & Data untuk Transparansi dan Akuntabilitas belum kelihatan! Buku Sekolah Elektronik (BSE)- Yang jelas percuma membuat Ebook Sekolah di Web! - - - "Transparansi dan Pembenahan Moral" - - - Sudah waktunya!
Coba situs pemerintah yang lain di: http://Re-SearchEngines.Com.Apakah website-website DepDikNas adalah informatif dan mendidik? Yang paling penting dalam singkatan "TIK" (Teknologi Informasi Komunikasi) adalah bagian "I" Informasi, dan ini yang sangat kurang dan perlu dibangun dulu, baru memikirkan teknologi.
E-Learning (lewat Internet) juga sebagai salah satu alat bantu pendidikan untuk situasi yang cocok dan kondusif. E-Learning adalah strategi yang biasanya lebih cocok untuk pelajar yang lebih matang seperti mahasiswa, yang jauh dari kampusnya atau yang dewasa yang harus menyesuaikan waktu belajar dengan jadwal pekerjaan atau tugas Ibu Rumah Tangga.Memang pembelajaran teknologi adalah penting, tetapi teknologi pelajaran hanya sebagai beberapa macam alat bantu bukan solusi terhadap segala masalah pendidikan. Kami melihat bahwa "TTG Solusi Pengentasan Kemiskinan di Pedesaan" muncul di berita lagi. Konsep ini sudah menarik sejak tahun 2005 (Telecenter CyberDesa), dan kami juga ikut konferensi Desember 2005. Tetapi pada waktu itu kami mulai sangat ragu-ragu oleh karena untuk selama dua hari itu yang dibahas saja adalah teknologi. Teknologinya bukan masalah, masalahnya adalah SDM di telecenter-telecenter yang pandai dan berdedikasi untuk membantu rakyatnya - ini yang perlu dibahas. Banyak orang di Indonesia sudah pandai mengimplementasikan teknologi, tetapi teknologi tanpa SDM yang 'Terlatih Khusus' dan Sangat Bermutu dan 'Mampu Mengurus Kebutuhan-Kebutuhan Rakyat di Pedesaan' bagaimana? Kita dapat berhasil? Bagaimana hasilnya sampai sekarang? Ayo Pak MenDikNas, Mari kita berjuang bersama untuk meningkatkan semua aspek pendidikan supaya menjaminkan pendidikan yang bermutu untuk semua... Anggaran Pendidikan 20% - Bersih Tanpa Korupsi dan MarkUp ... Mohon perhatian isu-isu pendidikan di lapangan! "Bambang Sudibyo menambahkan, adanya fasilitas ICT akan mampu memperbaiki akses pendidikan yang bermutu, yang selama ini sulit diakses oleh mereka yang bermukim di kawasan terpencil." (ANTARA News).
Artikel Ilmu Teknologi
Artikel Ilmu Teknologi
Google Luncurkan Aplikasi Pencari Data Intern PerusahaanGoogle meluncurkan tehnologi aplikasi pencari data dan informasi internal perusahaan yaitu “Google Search Appliance” (GSA) dan “Google Mini” di Indonesia.
“Dengan `Google Search Appliance` dan `Google Mini`, perusahaan dapat mencari informasi internal perusahaan mereka secara cepat dan mudah, dengan menggunakan tehnologi Google yang sederhana,” kata Head of Enterprise Sales, Google Southeast Asia. Bee-Loon Tan dalam acara peluncuran dua aplikasi Google tersebut di Jakarta, Selasa.Tan mengatakan GSA dan Google mini dapat membantu perusahaan atau institusi untuk melakukan pencarian dalam seluruh konten internal mereka, termasuk intranet, database, aplikasi bisnis dan website publik perusahaan.Dia mengatakan dari penelitian, pekerja perusahaan membutuhkan 23 persen waktunya untuk mencari dokumen dan informasi yang dibutuhkan.“Kalau kita bisa mengurangi waktu pencarian data tersebut hingga mencapai 5-10 persen, maka kita bisa membantu pekerja untuk bekerja lebih produktif,” kata Tan.GSA dapat mengindeks hingga 10 juta dokumen dalam satu kotak, dan fitur-fitur keamanannya menjamin bahwa masing-masing pengguna hanya dapat mencari informasi yang diijinkan untuk mereka lihat.
Sedangkan fitur Google Onebox for Enterprise dari GSA, para karyawan juga dapat mengakses informasi yang relevan secara real-time dari berbagai macam informasi korporat yang disimpan di dalam solusi aplikasi enterprise, seperti CRM, ERP dan system business intelligent dari Business Objects, Cognos, Microsoft Exchange, Netsuite, Oracle, Salesforce.com, SAP, SAS dan lain-lain.
Tan mengatakan GSA dijual dengan harga mulai 45.000 dolar AS untuk mencari hingga 500.000 sampai 3 juta dokumen dan Google Mini dihargai 4.500 dolar AS yang bisa digunakan untuk mencari data sampai 50.000 - 300.000 dokumen, termasuk semua hardware, software dan dukungan selama 2 tahun.“Untuk pencarian pada 3 juta - 10 juta dokumen bisa menggunakn super GSA,” katanya.Tan mengatakan tehnologi GSA yang diluncurkan pertama kali pada 2005, saat ini telah lebih dari 10.000 perusahan di seluruh dunia telah menggunakan produk pencarian enterprise Google ini.“Kami mempunyai pelanggan dari berbagai industri seperti pemerintah, perusahaan multinansional, pendiikan, kesehatan dan manufaktur, seperti Apple, Honeywell, British Airways, dan Adobe,” katanya.Tetapi untuk di Indonesia, Tan belum berani menargetkan berapa pelanggan yang bisa dicapaiData Dari:http://teknologitinggi.wordpress.com/2008/12/03/google-luncurkan-aplikasi-pencari-data-intern-perusahaan/
Google Luncurkan Aplikasi Pencari Data Intern PerusahaanGoogle meluncurkan tehnologi aplikasi pencari data dan informasi internal perusahaan yaitu “Google Search Appliance” (GSA) dan “Google Mini” di Indonesia.
“Dengan `Google Search Appliance` dan `Google Mini`, perusahaan dapat mencari informasi internal perusahaan mereka secara cepat dan mudah, dengan menggunakan tehnologi Google yang sederhana,” kata Head of Enterprise Sales, Google Southeast Asia. Bee-Loon Tan dalam acara peluncuran dua aplikasi Google tersebut di Jakarta, Selasa.Tan mengatakan GSA dan Google mini dapat membantu perusahaan atau institusi untuk melakukan pencarian dalam seluruh konten internal mereka, termasuk intranet, database, aplikasi bisnis dan website publik perusahaan.Dia mengatakan dari penelitian, pekerja perusahaan membutuhkan 23 persen waktunya untuk mencari dokumen dan informasi yang dibutuhkan.“Kalau kita bisa mengurangi waktu pencarian data tersebut hingga mencapai 5-10 persen, maka kita bisa membantu pekerja untuk bekerja lebih produktif,” kata Tan.GSA dapat mengindeks hingga 10 juta dokumen dalam satu kotak, dan fitur-fitur keamanannya menjamin bahwa masing-masing pengguna hanya dapat mencari informasi yang diijinkan untuk mereka lihat.
Sedangkan fitur Google Onebox for Enterprise dari GSA, para karyawan juga dapat mengakses informasi yang relevan secara real-time dari berbagai macam informasi korporat yang disimpan di dalam solusi aplikasi enterprise, seperti CRM, ERP dan system business intelligent dari Business Objects, Cognos, Microsoft Exchange, Netsuite, Oracle, Salesforce.com, SAP, SAS dan lain-lain.
Tan mengatakan GSA dijual dengan harga mulai 45.000 dolar AS untuk mencari hingga 500.000 sampai 3 juta dokumen dan Google Mini dihargai 4.500 dolar AS yang bisa digunakan untuk mencari data sampai 50.000 - 300.000 dokumen, termasuk semua hardware, software dan dukungan selama 2 tahun.“Untuk pencarian pada 3 juta - 10 juta dokumen bisa menggunakn super GSA,” katanya.Tan mengatakan tehnologi GSA yang diluncurkan pertama kali pada 2005, saat ini telah lebih dari 10.000 perusahan di seluruh dunia telah menggunakan produk pencarian enterprise Google ini.“Kami mempunyai pelanggan dari berbagai industri seperti pemerintah, perusahaan multinansional, pendiikan, kesehatan dan manufaktur, seperti Apple, Honeywell, British Airways, dan Adobe,” katanya.Tetapi untuk di Indonesia, Tan belum berani menargetkan berapa pelanggan yang bisa dicapaiData Dari:http://teknologitinggi.wordpress.com/2008/12/03/google-luncurkan-aplikasi-pencari-data-intern-perusahaan/
Artikel Ilmu Teknologi
Artikel Ilmu Teknologi
Fitur Anti Maling Dari Intel Buat Para Pecinta Notebook dan Laptop Intel, Lenovo dan Absolute. Tiga nama ini bergabung untuk menyajikan versi pertama dari teknologi Anti Maling (Anti-theft – AT) Intel. Teknologi ini didasarkan pada apa yang dimulai Intel pada Vpro, yakni menempatkan sejumlah kecil daya dan kapasitas simpan pada chipset. Karena informasi seperti kunci enkripsi disimpan di dalam chipset, akan sulit orang lain untuk mendapatkannya.Asumsikan saja Anda sudah punya notebook baru Lenovo T400 yang menggantikan T61. Anda mem-flash BIOS-nya, dan meng-install software Computrace, lalu mengeset parameter untuk menangkap orang-orang yang tak berhak. Absolute akan meng-host database Anda sebagai layanannya, atau menjual software itu kepada Anda pada kuartal kedua tahun 2009 jika Anda ingin meng-host-nya sendiri.Kombinasi dari hardware dan software tersebut memungkinkan Anda melakukan banyak hal menarik, proaktif dan reaktif. Kebanyakan tidak tergantung sistem operasi karena ada di chipset. Anda misalnya, bisa mengatur timer untuk menonaktifkan login jika komputer tidak terhubung ke server pusat dalam kurun waktu tertentu – sesuatu yang tidak disukai pengguna tetapi dicintai oleh perusahaan.Fitur reaktifnya seperti ini. Anda boleh mengeset mesin ini untuk bereaksi terhadap kegagalan password, sinyal dari remote server, atau sejumlah pemicu lain. Tentu semuanya berbasis chipset, jadi Anda tidak bisa mengakalinya dengan trik-trik biasa. Anda boleh saja membuatnya tidak bisa menembus layar BIOS. Jika punya FDE (full-disk encryption) berbasis hardware, Anda dapat menghapus kuncinya sehingga notebook sama sekali tidak bisa diakses oleh orang yang tidak berhak.Namun jika Anda belum memiliki FDE, Computrace dapat membantu menghapuskan file, folder, kunci tertentu atau seluruh disk. Ini tergantung pada sistem operasi, jadi komputernya harus dinyalakan dulu. Begitu Anda melaporkan kehilangan komputer, komputer tersebut dapat dinonaktifkan atau dilacak. Diperoleh Dari: http://teknologitinggi.wordpress.com/2008/12/04/fitur-anti-maling-dari-intel-buat-para-pecinta-notebook-dan-laptop/
Fitur Anti Maling Dari Intel Buat Para Pecinta Notebook dan Laptop Intel, Lenovo dan Absolute. Tiga nama ini bergabung untuk menyajikan versi pertama dari teknologi Anti Maling (Anti-theft – AT) Intel. Teknologi ini didasarkan pada apa yang dimulai Intel pada Vpro, yakni menempatkan sejumlah kecil daya dan kapasitas simpan pada chipset. Karena informasi seperti kunci enkripsi disimpan di dalam chipset, akan sulit orang lain untuk mendapatkannya.Asumsikan saja Anda sudah punya notebook baru Lenovo T400 yang menggantikan T61. Anda mem-flash BIOS-nya, dan meng-install software Computrace, lalu mengeset parameter untuk menangkap orang-orang yang tak berhak. Absolute akan meng-host database Anda sebagai layanannya, atau menjual software itu kepada Anda pada kuartal kedua tahun 2009 jika Anda ingin meng-host-nya sendiri.Kombinasi dari hardware dan software tersebut memungkinkan Anda melakukan banyak hal menarik, proaktif dan reaktif. Kebanyakan tidak tergantung sistem operasi karena ada di chipset. Anda misalnya, bisa mengatur timer untuk menonaktifkan login jika komputer tidak terhubung ke server pusat dalam kurun waktu tertentu – sesuatu yang tidak disukai pengguna tetapi dicintai oleh perusahaan.Fitur reaktifnya seperti ini. Anda boleh mengeset mesin ini untuk bereaksi terhadap kegagalan password, sinyal dari remote server, atau sejumlah pemicu lain. Tentu semuanya berbasis chipset, jadi Anda tidak bisa mengakalinya dengan trik-trik biasa. Anda boleh saja membuatnya tidak bisa menembus layar BIOS. Jika punya FDE (full-disk encryption) berbasis hardware, Anda dapat menghapus kuncinya sehingga notebook sama sekali tidak bisa diakses oleh orang yang tidak berhak.Namun jika Anda belum memiliki FDE, Computrace dapat membantu menghapuskan file, folder, kunci tertentu atau seluruh disk. Ini tergantung pada sistem operasi, jadi komputernya harus dinyalakan dulu. Begitu Anda melaporkan kehilangan komputer, komputer tersebut dapat dinonaktifkan atau dilacak. Diperoleh Dari: http://teknologitinggi.wordpress.com/2008/12/04/fitur-anti-maling-dari-intel-buat-para-pecinta-notebook-dan-laptop/
Langganan:
Postingan (Atom)
