Selasa, 11 Agustus 2009

PP-IPTEK di Ritech Expo 2009 Jakarta

PP-IPTEK di Ritech Expo 2009 Jakarta
Minggu,09 Agustus 2009 13:17
Pusat Peragaan Iptek (PP-IPTEK) – TMII berpartisipasi dalam acara Ritech Expo 2009 Jakarta yang berlangsung tanggal 7 – 10 Agustus 2009 di Plaza Barat Gelora Bung Karno, Senayan. Ritech Expo ini untuk memperingati hari kebangkitan teknologi nasional (HAKTEKNAS) ke-14, dengan tema “Kreativitas dan Teknologi Indonesia Bisa!”.

Pada Ritech Expo kali ini PP-IPTEK menampilkan lima alat peraga yakni: Generator Van de Graff, Harpa tanpa dawai, Uji konsentrasi, halilintar, dan bongosong. Sejak hari pertama pembukaan, stand PP-IPTEK di nomor 6 & 7 selalu dipadati oleh pengunjung. Lagi lagi Generator Van de Graff yang menjadi primadona pada pameran kali ini. Setiap pengujung yang lewat menghampiri stand PP-IPTEK dan langsung merangsek ke alat peraga yang dapat membuat rambut berdiri ini.

Dentingan suara harpa tanpa dawai dan juga dengungan suara bongosong yang terdengar keras juga turut memancing para pengunjung serta penjaga stand lain untuk bertanya dan masuk ke stand PP-IPTEK. Distand berbeda, Tsunami Early Warning System - Ristek, dua alat peraga milik PP-IPTEK juga di gelar yakni: simulasi tsunami dan gelombang air laut. Selain alat peraga, PP-IPTEK juga menampilkan demonstrasi peluncuran roket air dan demonstrasi iptek.(PP-IPTEK)

PEMANFAATAN TEKNOLOGI MULTIMEDIA DALAM PEMBELAJARAN

Judul: PEMANFAATAN TEKNOLOGI MULTIMEDIA DALAM PEMBELAJARAN
Bahan ini cocok untuk Mohon Pilih bagian PENDIDIKAN / EDUCATION.
Nama & E-mail (Penulis): Hidayat Raharja,S.Pd.
Saya Guru di SMAN 1 SUMENEP
Topik: teknologi multimedia
Tanggal: 27 JUNI 2008

Majunya teknologi informasi merupakan suatu perkembangan yang memberikan akses terhadap perubahan kehidupan masyarakat. Dunia informasi menjadi salah satu wilayah yang berkembang pesat dan banyak mempengaruhi peradaban masyarakat. Radio, Televisi, DVD, VCD merupakan salah satu perangkat elektronik yang menjadi bagian dari perabot rumahtangga. Selain berfungsi informatif, media teknologi tersebut merupakan salah satu media entertainment yang memberikan pilihan hiburan menyegarkan.

Akibat kemajuan media teknologi informasi, kehidupan masyarakat memasuki zone rekreatif (hiburan). Tidak dapat dibayangkan, ketika media televisi telah menjadi salah satu media yang menyediakan diri selama 24 jam untuk memberikan hiburan di tengah-tengah keluarga. Setiap sajian acara yang ditayangkan, senantiasa dikemas dalam unsur hiburan. Bukan hanya tayangan sinetron, iklan, bahkan pemberitaan (news) tak lepas dari unsur hiburan. Bagaimana berita kriminal dan mistik menjadi salah satu tayangan di berbagai stasiun televisi yang mampu menghipnotis pemirsa untuk tetap bertahan di hadapan layar televisi.

Hadirnya teknologi media audiovisual, telah menciptakan budaya masyarakat rekreatif dan konsumtif. Masyarakat memiliki banyak pilihan untuk menghibur diri dan membuang kesumpekan hidup yang makin menjepit.

Kondisi perubahan peradaban tersebut, telah pula menjadi pemicu terhadap upaya perubahan sisitem pembelajaran di sekolah. Upaya untuk melepaskan diri dari kungkungan pembelajaran konvensional yang memaksa anak untuk mengikuti pembelajran yang tidak menarik, dan membosankan, sehingga meminjam ungkapan Faulo Fraire, sekolah tak lebih merupakan bangunan tembok penjara yang menghukum penghuninya untuk mengikuti (memaksa) menerima segenap ajaran yang berkubang di dalamnya.

Neil Postman, salah satu filosof dan pakar pendidikan semakin mencemaskan terhadap kehidupan lembaga persekolahan yang semakin teralineasi dari kultur masyrakat yang kian dinamis, sehingga sampai pada taraf asumtif, matinya nilai-nilai pendidikan.

Kondisi sekolah, senantiasa dituntut untuk terus-menerus mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang pesat, sehingga sekolah yang tetap berkutat pada instruksional kurikul;um hanya akan membuat peserta didik gagap meliohat realitas yang mengepungnya.

Kehadiran teknologi multimedia, bukan lagi menjadi barang mewah, karena harganya bisa dijangkau oleh segenap lapisan masyarakat untuk memiliki dan menikmatinya. Artinya, sekolah sebagai lembaga pendidikan harus mampu untuk memiliki teknologi tersebut sehingga bisa menjadikannya sebagai media pembelajaran yang menarik, interaktif, dan mampu mengembangkan kecakapan personal secara optimal, baik kecakapan, kognitif, afektif, psikomotrik, emosional dan spiritualnya. Hal ini amat memungkinkan, ketika ruang belajar di luar gedung sekolah, telah menghasilkan berbagai produk audiovisual yang bernilai- edukatif, mulai dari mata pelajaran yang yang disajiukan dalam bentuk quiz, ataupun dalam bentuk penceritaan dan berbagai permainan yang memukau.

Salah satu sekolah menengah di Jember (SMAN 2) beberapa waktu lalu, telah mempublikasikan diri sebagai salah satu sekolah yang memakai perangkat multimedia untuk pembelajaran. Setiap guru wajib membuat media pembelajaran dengan teknologi multimedia dan menayangkannya (mempergunakan) dalam pembelajaran. Sungguh sangat menarik, dengan peralatan handycam, dan komputer (PC), seorang guru membuat media pembelajaran audiovisual yang akan memancing minat siswa untuk belajar dan tertarik untuk mengembangkan pengetahuannya. Kondisi yang membuat iri, berbagai sekolah untuk memiliki perangkat pembelajaran semacam itu. Bahkan, sudah waktunya pula apabila sekolah memanfaatkan situs-situs pengetahuan di dunia cyber untuk dimanfaatkan dalam pembelajaran.

Benarkah pemanfaatan teknologi multimedia akan membuat pembelajaran menjadi lebih menarik? Bagaimana seharusnya menyiapkan perangkat pembelajaran multimedia sehinggga menjadi tayangan yang menarik, dan efektif dalam pemanfaatannya untuk mengembangkan kemampuan siswa?

Ada sesuatu yang ganjil dalam pemakaian teknologi multimedia yang dipergunakan di SMA 2 Jember dalam pemberiataan jawa pos (maret, 2004), diantaranya pembelajaran agama, dengan menyagankan guru agama yang tengah berceramah. Pembelajaran matematika dengan mempergunakan CD dan hanya berisi berbagai keterangan (tulisan) yang berhubungan dengan pembelajaran. Atau di tempat lain, seorang guru menayangkan pembelajaran mempergunakan VCD yang berdurasi selama 90 menit (2 jam pelajaran) dari awal sampai tayangan berakhir siswa hanya diajak untuk menonton, tanpa ada sesuatu yang bisa mengukur pemahaman siswa terhadap apa yang diatayangkan. Contoh tersebut merupakan salah satu bentuk pemanfaatan media audiovisual yang diarasakan kurang efektif. Karena bila kita menengok pada ceramah agama di berbagai stasiun televisi sudah dikemas sedemikian menghibur dan mampu menarik minat pemirsa untuk saling berinteraksi. Artinya, sebelum media teknologi tersebut dipergunakan, terlebih dahyulku dikenali karakteristik dari tiap media, sehingga bisa dimanfaatkan secara efektif dan efisien

Dr.Vernom A.Magnesen (1983) menyatakan kita belajar, "10% dari apa yang dibaca; 20% dari apa yang didengar, 30% dari apa yang dilihat, 50% dari apa yang dilihat dan dengar, 70% dari apa yang dikatakan, 90% dari apa yang dilakukan"

Berpijak kepada konsep Vernom, bahwa pembelajaran dengan mempergunakan teknologi audiovisual akan meningkatkan kemamp[uan belajarn sebesar 50%, daripada dengan tanpa mempergunakan media. Namun dengan melihat pada realitas yang ditemukan pada proses pembelajaran tersebut, maka pencapaian belajar secara efektif akan dicapai apabila:

(1) Guru mengenal keunggulan dan kelemahan dari setiap media teknologi yang dipergunakan. Penggunaan teknologi auditif bukan berarti lebih buruk daripada media audiovisual, karena ada beberapa materi pembelajaran yang akan lebih baik ditayangkan dengan mempergunakan teknologi auditif untuk merangsang imajinasi siswa, dan melatih kepekaan pendengaran

(2) Menentukan pilihan materi yang akan ditayangkan, apakah sesuai dengan penggunaan media auditif, visual, atau audiovisual. Misalnya untuk melatih kepekaan siswa dalam memahami percakapan bahasa inggris, akan lebih baik kalau dipergunakan media auditif, sementara untuk mengetahui ragam budaya masyarakat berbagai bangsa tentu lebih relevan dengan mempergunakan tayangan audiovisual.

(3) Menyiapkan skenario tayangan, tentu berbeda dengan satuan pelajaran, karena disini menyangkut terhadap model tayangan yang akan disajikan sehingga menjadi menarik, nantinya akan mampu mengembangkan berbagai aspek kemampuan (potensi) dalam diri siswa.. Tidak kalah pentingnya, adalah bagaimana membuat anak tetap fokus kepada tayangan yang disajikan, dan mengukur apa yang telah dilakukan siswa dengan

(4) menyiapkan lembar tugas atau quiz yang harus dikerjakan siswa ketika menyaksikan tayangan pembelajaran

*****

Upaya membuat anak betah belajar disekolah dengan memanfaatkan teknologi multimedia, merupakan kebutuhan, sehingga sekolah tidak lagi menjadi ruangan yang menakutkan dengan berbagai tugas dan ancaman yang justru mengkooptasi kemampuan atau potensi dalam diri siswa. Untuk itu, peran serta masyarakat dan orangtua , komite sekolah merupakan partner yang dapat merencanakan dan memajukan sekolah.

Pemanfaatan teknologi merupakan kebutuhan mutlak dalam dunia pendidikan (persekolahan) sehingga sekolah benar-benar menjadi ruang belajar dan tempat siswa mengembangkan kemampuannya secara optimal, dan nantinya mampu berinteraksi ke tanmgah-tengah masyarakatnya. Lulusan sekolah yang mampu menjadi bagian intergaral peradaban masyarakatnya. Suatu keinginan yang tidak mudah, apabila sekolah-sekolah yang ada tidak tanggap untuk melakukan perubahan. Sejarah persekolahan di indonesia telah mencatat, bahwa upaya-upaya perubahan yang dilakukan pemerintah untuk melakukan pengembangan terhadap kurikulum sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, juiga pengembangan terhadap berbagai metode dan proses pembelajaran yang menarik untuk memancing dan memicu perkembangan kreatif siswa pada akhirnya kermbali kepada titik awal; betapa sulitnya perubahan itu?

Setidaknya dengan akan diberlakukannya kurikulum 2004 (KBK), pembelajaran di sekolah akan menjadi sangat variatif, rekreatif, dan tentu kontekstual. Jika murid tidak mampu bukan sepenuhnya kesalahan murid, tetapi bisa jadi kesalahan kolektif pihak sekolah yang kurang kondusif. Nyatanya, bila melihat dari faktor usia, siswa memiliki peluang besar untuk mengikuti perubahan yang ada, sementara kata orang bijak justru guru yang paling sulit berubah, karena faktor usia yang merasa lebih tua dan lebih tahu.

Teknologi telah hadir di hadapan kita, bagaimana kita memanfaatkannya secara optimal untuk nenajukan dunia pendidikan (bukan pendudukan) yang kita dicintai bersama. Tentunya semua itu amat bergantung kepada dana dan sumber daya, dan penghargaan terhadap manusianya.

Semarak Olimpiade Sains Nasional 2009 Berlanjut di PP-IPTEK

Semarak Olimpiade Sains Nasional 2009 Berlanjut di PP-IPTEK
Minggu,09 Agustus 2009 15:11

Kemeriahan tergambar saat acara pembukaan Olimpiade Sains Nasional (OSN) yang dibuka oleh Menteri Pendidikan Nasional Prof. Bambang Sudibyo, MBA di Birawa Assembly Hall, Hotel Bidakara, Jakarta, Senin malam 3 Agustus 2009 lalu. Semarak kemeriahanpun berlanjut di Pusat Peragaan Iptek (PP-IPTEK) TMII. Setelah para peserta mengerahkan segala kemampuannya untuk berkompetisi, Jumat, 7 Agustus 2009, seluruh peserta OSN tahun ini yang berjumlah 1447 siswa berbondong memadati galeri PP-IPTEK. Mereka adalah pelajar terbaik yang direkrut mulai dari sekolahnya di kabupaten/kota, kemudian diseleksi pada tingkat provinsi di seluruh Indonesia.

Rombongan peserta OSN SD/MI dengan berseragam merah muda, mengawali kontingen OSN 2009 yang datang terlebih dahulu ke PP-IPTEK, sekitar pukul 09.30. Rombongan ini berjumlah 198 siswa yang berasal dari 33 provinsi dimana setiap provinsi diwakili oleh 6 orang. Mereka terbagi menjadi 3 kelompok, kelompok pertama mengekplorasi galeri alat peraga, kelompok kedua menyaksikan demonstrasi iptek, dan kelompok ketiga menyaksikan demonstrasi peluncuran roket air. Wulan pusung, peserta dari Manado, Sulawesi Utara, menunjukkan antusiasme serta keceriaannya saat dapat meluncurkan roket air dengan mulus yang disambut oleh tepuk tangan peserta lainnya, “senang sekali dapat mencoba percobaan yang asyik ini” katanya.

Hal sama juga dirasakan Aditya peserta dari Kalimantan Timur yang terlihat asyik memainkan alat peraga sepeda giroskop. Dengan alat peraga tersebut kita dapat mengahasilkan efek giroskop, berputar kekiri atau kekanan hanya dengan memiringkan rodanya. Pun saat kita sedang naik sepeda, akan terasa semakin stabil ketika kita bergerak semakin cepat, efek ini juga disebut efek giroskop. Konsep ini pula yang dipakai helikopter untuk merubah arah terbang saat diudara.

Kunjungan rombongan OSN SD/MI berakhir sekitar pukul 13.00, tak lama kemudian peserta OSN SMA/MA datang. Mereka berjumlah 866 orang yang terbagi menjadi 8 kelompok sesuai dengan kategori bidang studi yang dilombakan yakni Fisika: 105 siswa; Matematika: 113 siswa; Kimia: 108 siswa; Biologi: 104 siswa; Komputer: 110 siswa; Astronomi: 107 siswa; Kebumian: 129 siswa; dan Ekonomi: 110 siswa. Berbeda dengan peserta SD/MI, peserta OSN SMA/MA langsung membaur digaleri dan mencoba alat peraga, walaupun tidak sedikit yang menyaksikan demo peluncuran roket air dan demo iptek.

Belum berakhir kunjungan OSN SMA/MA, sekitar pukul 15.30, 297 siswa peserta OSN SMP/MTs dan 54 siswa peserta OSN Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) SD datang bersamaan ke PP-IPTEK. Untuk memberikan layanan kepada pelajar terbaik Indonesia, PP-IPTEK pun ditutup pukul 17.30, setengah jam lebih lama dari biasanya.

PP-IPTEK turut bangga dapat memberikan kontribusi berupa layanan wisata pendidikan kepada pelajar terbaik Indonesia. Pemerintah sendiri telah menyiapkan beberapa medali untuk para pemenang OSN tahun ini yaitu: 67 emas, 132 perak, dan 197 perunggu. Selanjutnya siapa pun yang terpilih menjadi pemenang, mereka akan menjadi duta-duta bangsa yang akan bertarung dengan duta-duta dari bangsa lain di seluruh dunia dalam memperebutkan kejuaraan pada olimpiade sains di tingkat internasional.(PP-IPTEK)

Penganugerahan Pemerintah Kepada Kreativitas dan Inovator Teknologi

Penganugerahan Pemerintah Kepada Kreativitas dan Inovator Teknologi
Senin,10 Agustus 2009 19:05

Untuk memotivasi dan memacu pengembangan teknologi dan penerapannnya di semua bidang kehidupan, dalam rangka peringatan Hateknas Ke-14, Kementerian Negara Riset dan Teknologi (KNRT) memandang perlu memberikan anugerah kepada pemerintah Kabupaten dan Kota, Masyarakat, Ilmuwan dan Wartawan/penulis yang berprestasi dan memberikan sumbangan nyata bagi pemanfaatan iptek dalam pembangunan bangsa.

Puncak peringatan Hakteknas Ke -14 diselenggarakan pada Senin, 10 Agustus 2009 bertempat di Auditorium Gedung II BPPT, Jl. M.H Thamrin, Jakarta. Atas nama pemerintah, KNRT memberikan penganugerahan kepada kreativitas dan inovator bidang teknologi dalam pengembangan, pemanfaatan teknologi dalam meningkatkan motivasi masyarakat menggunakan Iptek dalam kehidupan sehari-hari menuju kesejahteraan bangsa Indonesia .

Penganugerahan ini diberikan oleh Menteri Riset dan Teknologi; Menteri Komunikasi dan Informatika; dan Menteri Perindustrian. Adapun pemenang Anugerah di bawah ini yaitu :

Pemenang Anugerah Kabupaten dan Kota : Kabupaten Jepara (Kelembagaan terkait Iptek); Kota Bandung (Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Iptek); Kabupaten Karang Asem (Sumberdaya Manusia terkait Iptek); Kota Magelang (Anggaran litbang dan pemanfaatan Iptek); Kota Palu (Kegiatan penelitan, pengembangan dan pemanfaatan Iptek); Kabupaten Bangka Selatan (Pengembangan Program Iptek).
Pemenang Anugerah Kreativitas Inovasi Masyarakat: Ida Bagus Adnyana (Alat tenun tradisional (ATBM) dengan sistem kartu); I Wayan Nuastra (Budidaya Kodok Lembu (Rana Catesbiana) sistem kandang Baterai).
Pemenang Anugerah Skema Insentif Ristek: Diah Asri Erowati (Bidang Ketahanan Pangan: Produksi silase hijauan makanan ternak metode baterai sebagai produk silase isi ulang); Endang Purwati (Bidang Sumber Energi Baru dan Terbarukan: Aplikasi bioteknologi untuk pengelolahan limbah peternakan ramah lingkungan sebagai Gas Bio dan Pupuk Organik padat/cair); Mahendra Anggarvidya (Manajemen Transportasi: Pengkajian dan pengembangan teknologi proses manufaktur busa karet untuk mendukung sektor tranportasi dan pertanian; Admi Syarif (Bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi: Revitalisasi budaya lampung berbasis multimedia dan teknologi informasi); Aciek Ida Wuryandari (Bidang Teknologi Kesehatan dan Obat: Pengembangan daya saing produk Nasional dalam bidang instrumen kedokteran).
Pemenang lomba Iptek untuk wartawan dan Penulis 2009:

Kategori Wartawan: Rohmat Haryadi (Majalah Gatra); Wahyu Kuncoro (Harian Bhirawa); Aprika Rani Hernanda (Bisnis Indonesia).
Kategori Non Wartawan: Prakoso Bharawa Putera (Judul: Langkah percepatan kebangkitan, Majalah Biskom edisi September 2008); Siti Nuryati (Judul: Melirik potensi energi, pangan, kesehatan dari laut, Harian Suara Karya 14 April 2009); Sidarmono Sasmono (Judul: PLTA Run Off River solusi konflik pemanfaatan air, Harian Pikiran Rakyat, 11 Juni 2009).

5. Pemenang Lomba penulisan pemanfaatan perangkat lunak sistem
terbuka/Open Source Software (OSS) oleh wartawan di media cetak
dan elektronik:

Penulis artikel: Arli Aditya Parikesit (Pendekatan multidisiplin dalam masyarakat untuk menggunakan OSS); Unggul Sagena (Strategi kepala dan ekor di pentas); Chandra Wirawan (Tuna netra goes open source).
Penulis pariwara: Ratna Jaya Kusumawati (Open source software penolongku); Cahyo Seto Prabowo (Igos untuk pendidikan yang lebih baik); Adzym Maulana Aji (Open your creativity). (humasristek)

Pendayagunaan Produk Bahan Alami dalam Mengatasi kanker

Pendayagunaan Produk Bahan Alami dalam Mengatasi kanker
Selasa,11 Agustus 2009 14:15

Obat-obat tradisional belakangan ini semakin disukai di negara-negara maju karena lebih aman serta tidak ada efek samping seperti obat sintetik dan antibiotik. Kecenderungan masyarakat kembali memakai bahan alami dikenal sebagai “gelombang hijau baru” (New Green Wave), gerakan ini berupaya menggunakan kembali obat-obatan tradisional yang ramuannya dari bahan alami yang di dapat di alam.

Dalam rangka melakukan review terhadap kemajuan iptek di bidang obat alami, BPPT bekerjasama dengan Perhimpunan Peneliti Bahan Alam (PERHIPBA), RS Kanker Dharmais dan Deutscher Akademischer Austausch Dienst (DAAD) menyelenggarakan Simposium Penelitian Obat Alami XIV pada 11-12 Agustus 2009 di Gedung BPPPT II. Review difokuskan pada perkembangan dan kemajuan penelitian dalam upaya pendayagunaan produk alami dalam mengatasi kanker.

Menteri Negara Riset dan Teknologi, Kusmayanto Kadiman hadir sebagai keynote speaker, mengangkat tema “Kebijakan Riset dan Teknologi dalam mengakselerasi Penerapan Hasil-hasil Penelitian Bahan Alam untuk memperkuat Industri Farmasi Nasional”. Kusmayanto Kadiman menyampaikan bahwa Jamu di Indonesia berkontribusi sekitar 10.000 Triliun per tahun. Selanjutnya Kusmayanto Kadiman mengatakan bahwa ada 3 hal yang sangat berperan besar dalam penyakit kanker dan saling beradu pengaruh yaitu faktor physic, chemistry and emotion. Pendayagunaan produk bahan alami dalam mengatasi kanker mencakup pencarian produk-produk dari bahan alam dan bagaimana cara mengatasi kanker.

Dalam laporannya, Direktur Pusat Teknologi Farmasi dan Medika-BPPT, Rifatul Widjhati selaku penanggung jawab kegiatan menyampaikan Simposium ini bertujuan untuk mengekplorasi konsep-konsep ilmiah penanganan kanker melalui pemanfaatan produk alami; dan untuk mendapatkan informasi potensi pasar produk alami khususnya untuk penyakit kanker; serta memberikan masukan kepada pihak-pihak yang terkait dengan pendayagunaan produk bahan alami dalam sistem pelayanan kesehatan ditinjau dari aspek riset, penerapan, kelembagaan dan kebijakan. Lebih dari 300 peserta dari berbagai institusi penelitian, perguruan tinggi, klinisi dan kalangan industri (PT. SOHO Industri Farmasi, RS Kanker Dharmais, RS Dr. Soetomo dan PT Indofarma Tbk) hadir dalam Simposium ini, sekitar 130 paper ilmiah akan dipresentasikan mencakup bioteknologi, teknologi farmasi, farmakologi ekperimental, fitokimia, analisis dan standarisasi pengembangan proses produksi, kimia alam laut, mikrobiologi serta biologi molekular

Simposium dibuka oleh Kepala BPPT, Marzan Iskandar dengan kata pembuka, bahwa pengembangan obat sintetik sudah sangat dikuasai oleh industri farmasia global, bahkan sudah mulai digarap oleh negara-negara Asia seperti Cina dan India, maka disadari perlunya diciptakan sistem kemitraaan hulu ke hilir utnuk industri herbal dengan diawali dengan penyediaan bibit unggul tanaman obat melalui teknologi breeding yang diikuti dengan teknologi budidaya dengan sistem precision farming untuk mendapatkan tanaman dengan kualitas dan hasil prima,

Simposium dihadiri oleh Direktur Pusat Teknologi Farmasi dan Medika-BPPT, Rifatul Widjhati, Kepala BPPT, Marzan Iskandar, Schnleders dari DAAD serta para stakeholder lainnya. (humasristek)

Iptek Harus Menjadi Bagian Hidup Sehari-hari

Iptek Harus Menjadi Bagian Hidup Sehari-hari
Senin,10 Agustus 2009 17:50
Kita tahu semua bahwa ilmu pengetahuan dan Teknologi (Iptek) adalah sebagai alat bantu untuk hidup lebih mudah. Sejak dahulu bangsa Indonesia sudah mewarisi ilmu pengetahuan dan teknologi yang sudah dimanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Ini terlihat dari kreatifitas dan inovasi yang berkembang di masyarakat, sehingga masyarakat kita dapat hidup dan berkembang sampai saat ini.

Memandang Iptek harus penting karena kalau hidup tanpa iptek berarti benar-benar tidak punya kepedulian terhadap masa depan bangsa. Dengan Iptek kehidupan bangsa Indonesia akan berubah sesuai perkembangan Jaman. Akan tetapi masih banyak masyarakat memandang iptek dengan sebelah mata, mereka belum menyadari bahwa sejak bangun sampai dengan tidur manusia sudah hidup di kancah kehidupan iptek khususnya teknologi.

Menurut pendapat Presiden SBY pada Hateknas XII ada dua. Pertama, bagaimanapun umat manusia termasuk bangsa Indonesia harus memiliki new lifestyle, gaya hidup yang baru, gaya hidup yang pandai merawat lingkungannya, biaya hidup yang hemat energi dan lain-lain. Ini berkaitan dengan culture, kebudayaan, nilai, perilaku. Yang kedua, tiada lain adalah intervensi teknologi, inovasi teknologi.

Didalam kehidupan sehari-hari teknologi sudah mempunyai peran didalam kancah pertumbuhan Indonesia, dalam perspektif politik, ekonomi maupun sosial menurut Menegristek, Kusmayanto Kadiman pada kesempatan memberikan sambutan pada Peringatan hari Kebangkitan Tenologi Nasional XIV tanggal 10 Agustus 2009 di Auditorium BPPT Jakarta.

Realitanya didalam masyarakat masih adanya mitos bahwa teknologi itu sesuatu Eksklusif hanya untuk segelintir orang yang beruntung khususnya orang yang beruntung mengenyam pendidikan tinggi, mahal, sulit komplek jauh dari masyarakat luas. Ini merukan pekerjaan rumah kita bersama semua elemen bangsa untuk segera keluar dari mitos tersebut lanjut Kusmayanto Kadiman.

Dengan Teknologi, kita bisa melakukan hal-hal yang selama ini dianggap sakral, itu bisa dengan di lakukan lawan dari sakral atau kata lai de’sakralisasi menurut Menkominfo, M. Nuh setelah mencoba membatik dengan teknologi batik fractal. Jangan dijadikan teknologi menjadi budaya sakral yang berakibatkan masyarakat semakin ketinggalan dalam kehidupan bermasyarakat disekitar maupun diluar. Jadikan Budaya Iptek didalam kehidupan kita sehari hari menuju Indonesia Pasti Bisa.

Hari Kebangkitan Teknologi Nasional XIV, 2009
Awal dari Hari Kebangkitan Teknologi Nasional berawal pada tanggal 10 Agustus 1995 kita tandai dengan penerbangan perdana pesawat terbangang karya anak negeri. Keberhasilan memanfaatkan, mengembangkan dan menguasai teknologi tinggi ini merupakan suatu lompatan yang sangat berarti sehingga bangsa Indonesia dapat diperhitungkan dalam kancah pergaulan dunia.

Sebenarnya peristiwa ini tidak merupakan suatu peristiwa yang berdiri sendiri, akan tetapi terkait dengan sukses gerakan pengerahan nasional dalam upaya penguasaan teknologi di bidang lain. Tidaklah heran jika kemudian berbagai kalangan masyarakat Indonesia-seperti para cerdik cendikiawan, alim ulama, serta wakil rakyat yang duduk di DPR menyuarakan keinginan untuk menjadikan tanggal 10 Agustus sebagai suatu hari yang pantas di jadikan tonggak perjalanan bangsa Indonesia bangkit untuk menguasai teknologi.

Setiap tahun kemudian Hateknas selalu dirayakan untuk memberi makna dari kebangkitan teknologi itu menjadi berarti yang mampu membangkitkan semangat anak bangsa agar lebih memanfaatkan dan mengembangkan teknologi untuk kepentingan peningkatan kehidupan ekonomi dan kehidupan sosial masrakat dengan tujuan mengentaskan kemiskinan,

Acara Peringatan Kebangkitan Teknologi Nasional ke 14 tahun 2009 dengan tema ” Kreatifitas dan Teknologi, Indonesia” adalah sebagai salah satu wahana pemasyarakatan teknologi untuk menanamkan kesadaran dalam diri bangsa, bahwa pemanfaatan, pengembangan dan penguasaan teknologi sangatlah vital untuk peningkatan kesejahteraan bangsa Indonesia.

Didalam acara puncak Hateknas diserahkan penghargaan kepada individu maupun kelompok atas jasa dalam mengembangkan dan memajukan Iptek Indonesia serta memberikan penghargaan kepada mereka yang telah mengharumkan nama bangsa dan negara didunia internasional atas temuan di bidang Iptek. Undangan yang hadir dari berbagai kalangan yang terdiri kalangan akademisi, para pemenang anugerah, 101 inovator anak bangsa, Lembaga-lembaga pemerintah departemen maupun non departemen dan Duta Besar Belanda untuk Indonesia serta seluruh komunitas Ristek.

Pada kesempatan acara tersebut Menegristek mewakili Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono menerima penyerahan 101 Inovasi anak bangsa, hasil karya Putra-putri Indonesia, Atlas Indonesia dan sekaligus menyerahkan Anugerah Iptek dan Batik Fraktal. Demo membatik Fraktal juga dilakukan untuk membuktikan bahwa dengan teknologi para pembatik dapat lebih banyak berkreasi dan inovasi motif batik. Sehingga khasana motif batik nasional semakin semarak.

Menkominfo, M Nuh dan Menperindag Fahmi Idris berkesempatan untuk ikut dalam mencoba pembuatan batik dengan canting elektrik hasil inovasi anak bangsa dengan motif fraktal. Kusmayanto Kadiman dengan lugasnya mencoba menjelaskan cara membuat motif batik dengan menggunakan teknologi komputer dengan memasukkan rumus Fraktal sehinga terjadi motif baru batik. (Humasristek)

IPTEK VOICE : Alat Deteksi Jantung Buatan BPPT

IPTEK VOICE : Alat Deteksi Jantung Buatan BPPT
Selasa,11 Agustus 2009 14:33

Fenomena kematian akibat serangan jantung koroner diwaktu fajar atau dini hari sudah sering terdengar, agar tidak terjadi mereka yang beresiko tinggi hendaknya rajin memeriksa jantung walaupun tidak terasa ada keluhan, obat dan gerak badan bisa mengurangi faktor resiko terkena penyakit jantung koroner dan berusahalah untuk menghentikan aktifitas mental yang berat saat menjelang fajar. Elektrokardiograf (EKG) merupakan sebuah instrument medis yang digunakan sebagai alat untuk memperoleh informasi seputar kerja jantung manusia yang di buat oleh BPPT, untuk lebih jelasnya Dr. Pratondo Busono menyampaikan dalam program radio Kementerian Negara Riset dan Teknologi, IPTEK VOICE yang disiarkan oleh Bahana 101.8 FM, Selasa 11 Agustus 2009 pada pukul 08.00-08.45.
Pratondo mengatakan pembuatan KardioLis adalah elektrocardiograf berbasis personal komputer yang dikembangkan BPPT sudah kurang lebih 3 tahun. Versi pertama yang dikembangkan adalah, elektrokardiograf 3 lead dan 5-lead tahapan berikutnya 12-lead. Keunggulan dari EKG ini adalah dilengkapi dengan perangkat lunak interpretasi, murah, dilengkapi dengan perangkat lunak advance digital signal processing, mudah dirawat. Aplikasi dari EKG adalah di puskesmas, rumah sakit, klinik dll.

Pratondo menjelaskan mekanisme sederhana dari alat ini adalah mengukur potensial listrik sebagai fungsi waktu yang dihasilkan oleh jantung. Potensial listrik tersebut dihasilkan oleh beberapa sel pemicu denyut jantung yang dapat merubah sistem kelistrikan jantung. Perbedaan potensial tersebut kemudian divisualisasikan sebagai sinyal pada layar monitor atau pada kertas perekam. Sinyal ini sering digunakan oleh dokter untuk mendeteksi kondisi jantung seorang pasien. Sinyal yang dihasilkan oleh EKG pada umumnya merupakan sinyal domain waktu dalam kertas rekaman yang disebut Elektrokardiogram.

Pratondo menjelaskan bahwa elektrokardiogram ini sangat bermanfaat untuk mengetahui kondisi jantung pasien, sehingga menjadikan alat ini sebagai peralatan standar bagi semua rumah sakit. Kebanyakan elektrokardiograf yang digunakan dirumah sakit - rumah sakit masih diimpor sehingga ketergantungan kepada pihak luar negeri sangat besar. Estimasi kebutuhan EKG pertahun diperkirakan berskisar 1000 unit untuk rumah sakit seluruh Indonesia. sudah diujicobakan di sub bagian unit kardiologi di RSCM dan alat ini juga sudah di coba oleh beberapa orang, sampai saat ini sosialisasi menyebarkan alat ini bekerjasama dengan rumah sakit besar di seluruh Indonesia, baru kemudian akan bekerja sama dengan rumah sakit-rumah sakit kecil ujarnya menutup pembicaraan.

Sahabat Iptek...simak terus informasi Iptek yang menarik dan berguna lainnya dari narasumber pakar dibidangnya, setiap selasa s/d jum'at pukul 08.00-08.45 WIB di Bahana 101.8 FM. IPTEK VOICE "The Sound of Science". (rgp,dn/adpdki)